By. Dr. Khairuddin, S. Ag. MA
KBBAcehnews.com | Banda Aceh – Manusia memiliki kecenderungan yang berbahaya: bodoh dalam memahami dan zalim dalam bertindak. Al-Qur’an tidak menutupinya dengan bahasa halus, tetapi menyatakannya secara langsung yang artinya : “Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)
Ini berarti kita—dan orang yang kita hadapi—berpotensi jatuh pada dua kesalahan sekaligus: bertindak tanpa ilmu, lalu bersikap tanpa keadilan. Kebodohan melahirkan keputusan yang gegabah, sementara kezaliman melahirkan kerusakan yang disengaja. Keduanya sering berjalan beriringan, dan lebih berbahaya lagi ketika dibalas dengan pola yang sama.
Kebodohan itu seperti orang yang melempar lumpur. Jika kita membalas dengan melempar lumpur juga, maka yang terjadi bukanlah kemenangan, tetapi kedua-duanya menjadi kotor. Tidak ada yang lebih bersih, tidak ada yang lebih benar. Yang ada hanya dua pihak yang sama-sama tenggelam dalam kesalahan. Karena itu, ketika kita dibodohi, jangan menjadi zalim. Dan ketika dizalimi, jangan menjadi bodoh. Jika tidak, kita hanya memperpanjang lingkaran keburukan.
Al-Qur’an memberikan standar yang tegas:
“Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34)
Ayat ini bukan sekadar anjuran moral, tetapi strategi akal. Membalas kebodohan dengan hikmah memutus rantai kesalahan. Sebaliknya, membalas kebodohan dengan kezaliman justru menegaskan bahwa kita tidak lebih baik dari yang kita kritik.
Coba kita bayangkan jika seseorang salah arah dalam berkendara, lalu kita menabraknya karena marah, maka kesalahannya tetap ada, tetapi kita juga menjadi pelaku kecelakaan. Ia mungkin keliru, tetapi kita memilih menjadi perusak. Di sinilah perbedaan antara orang yang hanya bereaksi dan orang yang berpikir.
Allah juga mengingatkan: “Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: ![]()
Ayat ini menutup celah pembenaran. Tidak ada alasan untuk menjadi zalim, bahkan ketika kita sedang diperlakukan tidak benar. Tidak ada alasan untuk menjadi bodoh, bahkan ketika kita menghadapi kebodohan. Karena setiap tindakan akan kembali kepada pelakunya.
Kebodohan akan memanen kebodohan.
Kezaliman akan memanen kezaliman. Tetapi orang yang menjaga akalnya saat dibodohi dan menjaga keadilannya saat dizalimi, ia keluar dari dua jebakan sekaligus. Ia tidak ikut kotor oleh lumpur, tidak ikut hancur oleh tabrakan. Ia memilih tetap berdiri—tegas, sadar, dan adil. (Red)