KBBAcehnews.com | Tapaktuan — Tekad kuat kembali ditunjukkan Edi Saputra, penyanyi dangdut muda asal Aceh Selatan, yang tak gentar meski pernah gagal dalam audisi Liga Dangdut Indonesia (LIDA) tahun 2021. Kini, ia kembali mencoba peruntungan dengan mengikuti audisi offline D’Academy 8 yang akan digelar di Medan, Sumatera Utara, pada 19 April 2026.
Bagi Edi, kegagalan di masa lalu bukanlah akhir dari segalanya. Justru, pengalaman tersebut menjadi pemicu semangat untuk terus bangkit dan berjuang meraih cita-cita. Ia menegaskan, motivasi terbesarnya adalah keinginan membanggakan keluarga, khususnya kakek dan nenek yang telah membesarkannya sejak kecil.
“Saya pernah gagal, tapi itu tidak membuat saya menyerah. Saya ingin membanggakan kakek dan nenek, karena mereka adalah sumber kekuatan saya,” ujar Edi dengan mata berkaca-kaca kepada wartawan, Selasa (14/4/2026).
Edi mengisahkan, sejak usia satu tahun ia telah kehilangan kedua orang tuanya. Sejak saat itu, ia diasuh oleh kakek dan nenek yang memberikan kasih sayang serta dukungan tanpa henti. Sosok kakek menjadi figur penting yang membentuk perjalanan hidupnya hingga kini.
Ia pun mengenang momen haru bersama almarhum kakeknya yang kerap menyampaikan harapan agar Edi suatu hari bisa tampil sebagai penyanyi dangdut di layar televisi. Bahkan, sang kakek disebut sering terharu hingga meneteskan air mata saat mendengar Edi bernyanyi.
“Kakek pernah bilang ingin melihat saya tampil di TV. Itu yang selalu saya ingat dan jadi semangat sampai sekarang,” kenangnya.
Namun, harapan tersebut belum sempat terwujud hingga sang kakek berpulang. Kini, Edi bertekad untuk mewujudkan mimpi itu, sekaligus memenuhi harapan neneknya yang masih setia mendampinginya.
Keikutsertaannya dalam audisi D’Academy 8 menjadi kesempatan terakhir bagi Edi, mengingat batas usia peserta maksimal 23 tahun. Ia pun mengaku telah mempersiapkan diri secara maksimal demi memberikan penampilan terbaik.
“Saya sudah belajar dan mempersiapkan kemampuan bernyanyi sedikit demi sedikit. Ini kesempatan terakhir, jadi saya harus berjuang maksimal,” ujarnya penuh optimisme.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan hidup, Edi memilih untuk tetap tegar dan tidak mengeluh. Ia meyakini setiap ujian adalah bentuk kepercayaan dari Tuhan bahwa dirinya mampu melewatinya.
“Saya percaya, seberat apa pun hidup kita, pasti ada yang lebih berat. Jadi saya memilih tetap semangat, berjuang, dan tidak menyerah,” tuturnya.
Tak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, Edi juga mengajak generasi muda, khususnya di Aceh Selatan, untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi kegagalan. Ia menegaskan bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses menuju kesuksesan.
“Mari bangkit dan tunjukkan bahwa kita bisa. Kegagalan bukan akhir, tapi bagian dari jalan menuju kesuksesan,” pesannya.
Dengan tekad yang tak tergoyahkan, Edi berharap dapat mengharumkan nama Aceh Selatan di kancah nasional serta mewujudkan impian yang selama ini ia perjuangkan.
“Tanyoë aneuk nanggroe, jak sama-sama ta bangkit dan ta harumkan nama Provinsi Aceh dan Aceh Selatan,” pungkasnya penuh semangat. (Red)