By Dr. Khairuddin, S. Ag. MA
KBBAcehnews.com | Banda Aceh – Gagasan tentang kesadaran sebagai sesuatu yang tidak musnah—seperti yang diangkat dalam teori Orch-OR oleh Roger Penrose dan Stuart Hameroff—memberikan sudut pandang menarik bahwa manusia bukan sekadar tubuh fisik. Dalam teori ini, kesadaran dipandang sebagai informasi kuantum yang tersimpan dalam struktur mikro otak, dan ketika tubuh berhenti berfungsi, informasi tersebut tidak lenyap, melainkan kembali ke alam semesta.
Namun, dalam perspektif Islam, konsep ini sesungguhnya telah lama disentuh dengan bahasa wahyu yang lebih dalam dan menyeluruh.
Al-Qur’an menegaskan bahwa hakikat manusia bukan hanya jasad, tetapi juga ruh. Allah berfirman: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)
Ayat ini menunjukkan bahwa ruh adalah entitas non-fisik yang berasal dari dimensi ilahi, bukan sekadar hasil proses biologis. Jika sains modern berbicara tentang “informasi kuantum yang tidak hancur”, maka Al-Qur’an telah lebih dahulu mengisyaratkan bahwa ruh manusia berasal dari Allah dan berada di luar jangkauan penuh akal manusia.
Lebih jauh, Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa kematian bukanlah akhir dari eksistensi:
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya…”(QS. Az-Zumar: 42)
Dalam tafsir para ulama, ayat ini menjelaskan bahwa ketika seseorang meninggal, ruhnya “diambil” dan berpindah ke alam lain (barzakh), bukan hilang atau hancur. Ini sejalan secara konseptual dengan gagasan bahwa kesadaran tidak lenyap, tetapi berpindah dari satu keadaan ke keadaan lain.
Dalam hadits Nabi Muhammad SAW juga disebutkan: “Sesungguhnya kubur itu adalah taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menegaskan bahwa setelah kematian, manusia tetap “sadar” dalam bentuk eksistensi lain. Artinya, kehidupan tidak berhenti pada kematian biologis, tetapi berlanjut dalam dimensi yang berbeda.
Jika kita bandingkan, sains modern baru sampai pada kesimpulan bahwa kesadaran mungkin tidak musnah, sementara Islam telah menegaskan sejak awal bahwa manusia memiliki ruh yang kekal dan akan kembali kepada Allah: “Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)
Dengan bahasa sederhana, tubuh manusia memang seperti “wadah”, tetapi ruh adalah “hakikat”. Ketika wadah rusak (mati), isi tidak hancur—ia berpindah ke alam yang lebih luas.
Namun, penting untuk bersikap proporsional. Teori Orch-OR masih merupakan hipotesis ilmiah yang terus diteliti dan belum menjadi kesimpulan final dalam dunia sains.
Sedangkan dalam Islam, keberadaan ruh dan kehidupan setelah mati adalah perkara keyakinan yang bersumber dari wahyu, bukan sekadar eksperimen.
Maka, kematian bukanlah akhir segalanya. Ia adalah gerbang perpindahan—dari alam yang tampak menuju alam yang hakiki.
Dan di sinilah letak titik temu yang indah:
Sains mencoba memahami bagaimana kesadaran itu bertahan, sementara Islam menjelaskan untuk apa manusia hidup dan ke mana ia akan kembali.
Akhirnya, yang paling penting bukan sekadar mengetahui bahwa “kita tidak akan musnah”, tetapi menyadari bahwa setiap kesadaran yang kita miliki hari ini akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. (Red)