KBBAceh.News | Tapaktuan – Kalau kita membuka Al-Qur’an, ada satu kisah yang begitu indah: nasihat Luqman kepada anaknya. Ia tidak bicara soal emas, rumah megah, atau harta warisan. Yang ia tinggalkan hanyalah kata-kata penuh makna: jangan pernah menyekutukan Allah, dirikan shalat, berbuat baik, jauhi keburukan, bersabarlah, dan jagalah akhlak.
Lihatlah, betapa sederhana tapi begitu dalam. Luqman memulai dari tauhid, lalu ibadah, baru kemudian akhlak. Urutannya jelas—iman dulu, baru dunia.
Para ulama menjelaskan, pendidikan anak memang harus dimulai dari rumah, dari orang tua sendiri. Bukan hanya diserahkan ke sekolah atau guru. Dan cara menyampaikannya pun penuh cinta, bukan dengan teriakan atau paksaan. Kata “ya bunayya”—wahai anakku tersayang—sudah cukup menggambarkan kelembutan itu.
Renungkan sebentar. Banyak orang tua sekarang begitu sibuk menyiapkan anaknya sukses di dunia: les ini-itu, kursus bahasa asing, bimbel mahal. Tapi sering lupa menyiapkan mereka menghadapi akhirat. Kita panik kalau anak tidak bisa matematika, tapi entah kenapa lebih tenang kalau mereka belum bisa membaca Al-Qur’an. Padahal, bahasa surga bukan bahasa Inggris, melainkan bahasa iman.
Mendidik anak itu seperti menanam pohon. Kalau benihnya bagus, tanahnya subur, dan rajin disiram doa, pohonnya akan tumbuh lurus. Tapi kalau sejak kecil dibiarkan liar, jangan heran kalau kelak ia bengkok—dan sulit diluruskan kembali.
Maka mari kita tanya diri sendiri: apakah kita sedang mendidik anak untuk hidup nyaman di dunia saja, atau juga untuk hidup mulia di akhirat?
Ingat…..
Bahwa orang tua sejati bukanlah yang meninggalkan harta berlimpah, tetapi yang meninggalkan iman yang kokoh. Karena rumah bisa runtuh, harta bisa hilang, tapi doa anak yang shalih akan terus mengalir, bahkan saat kita sudah tak ada lagi di dunia.
(By. Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)