By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA
KBBAcehnews.com | Banda Aceh – Dalam hidup ini, ada ironi yang sering kita lewatkan begitu saja. Satu peristiwa yang dihindari oleh sebagian orang, justru menjadi harapan bagi sebagian yang lain. Satu keadaan yang ditakuti oleh banyak jiwa, justru menjadi pintu rezeki bagi jiwa yang berbeda peran.
Orang sakit berdoa dengan sungguh-sungguh agar segera sembuh dan dipanjangkan umur.
Ia memohon hidup, ia memohon waktu.
Namun pada saat yang sama, ada penggali kubur yang berdoa agar hari itu ada jenazah yang dimakamkan, agar dapurnya tetap mengepul dan anak-anaknya bisa makan. Apakah doa ini bertentangan? Apakah Allah harus memilih salah satunya dan menolak yang lain? Tidak. Di sinilah letak kebijaksanaan Allah yang sering gagal kita pahami.
Allah tidak bekerja dengan logika sempit manusia. Ia tidak menimbang hidup hanya dari sudut pandang satu orang. Ia mengatur semesta dengan keadilan yang utuh, bukan perasaan yang sepihak. Kematian bagi satu keluarga adalah duka. Namun bagi keluarga lain, ia adalah sebab rezeki. Kesembuhan bagi seseorang adalah kebahagiaan.
Namun bagi dokter, perawat, apoteker, itu adalah ladang pengabdian dan kehidupan.
Tidak ada doa yang saling meniadakan. Yang ada hanyalah peran yang berbeda dalam satu skenario besar ketetapan Ilahi. Manusia sering berdoa hanya dari titik lukanya sendiri.
Padahal Allah melihat dari peta kehidupan yang jauh lebih luas. Kita meminta sekarang,
sementara Allah memberi ketika waktu itu benar-benar membawa kebaikan, bukan sekadar keinginan.
Jika semua yang sakit langsung sembuh saat itu juga, di mana hikmah kesabaran? di mana makna empati? di mana ruang bagi manusia untuk saling meno
Jika semua kematian dihentikan karena doa manusia, maka di mana keadilan waktu?
di mana kepastian akhir? di mana pelajaran bahwa hidup ini bukan tempat tinggal, melainkan tempat singgah? Allah memberi bukan karena kita paling keras meminta, tetapi karena saat itu paling tepat untuk diberikan. Ada orang yang ditunda kesembuhannya agar imannya matang.
Ada orang yang dipanjangkan umurnya agar taubatnya sempurna. Ada yang dicabut nyawanya bukan karena dibenci, tetapi karena misinya di dunia telah selesai. Di sinilah manusia harus belajar satu hal penting:
tak semua yang kita benci buruk, dan tak semua yang kita inginkan baik. Tugas kita bukan memaksa takdir tunduk pada keinginan, melainkan menundukkan hati agar lapang menerima kebijaksanaan Allah.
Karena pada akhirnya, Allah tidak pernah salah memberi, tidak pernah keliru menunda,
dan tidak pernah lalai menempatkan seseorang di waktu, peran, dan keadaan yang paling sesuai untuknya. Dan saat kita benar-benar memahami ini, doa kita tidak lagi sekadar permintaan, tetapi berubah menjadi ketenangan. (Red)