By Dr. Khairuddin, S.Ag. MA
KBBAcehnews.com | Banda Aceh – Tulisan ini lahir dari sebuah percakapan yang sunyi—sebuah konsultasi dengan seseorang yang baru saja melangsungkan pernikahan. Di luar, hidupnya tampak rapi dan utuh; senyum di foto-foto keluarga, kebersamaan yang dibagikan ke media sosial, ucapan selamat yang terus berdatangan. Namun di balik semua itu, ia menyimpan cerita yang tak banyak orang dengar: tentang pernikahan yang dijalaninya tanpa getar cinta, tentang kebersamaan yang terasa seperti kewajiban, tentang keputusan besar yang diambil bukan demi dirinya sendiri, melainkan demi membahagiakan orang tua.
Dari pengakuan itulah tulisan ini dirangkai—bukan untuk membuka aib, melainkan untuk memahami luka yang kerap tersembunyi di balik rumah tangga yang terlihat sempurna.
Ada rumah yang pintunya selalu terbuka, tirainya tersibak rapi, dan senyumnya tergantung di dinding-dinding digital—di layar ponsel, di unggahan media sosial, di foto keluarga yang tampak utuh. Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja. Bahkan lebih dari baik: bahagia.
Namun di dalamnya, ada seorang jiwa yang duduk sendirian di sudut malam, memeluk sunyi yang tak pernah diposting. Ia berkata, “Aku menikah bukan karena cinta. Aku menikah agar orang tuaku tenang.”
Kalimat itu meluncur lirih, seperti daun kering yang jatuh tanpa suara, tetapi jika kita mendengarnya sungguh-sungguh, ia menghantam dada dengan kekuatan badai.
Ia tetap pulang ke rumah. Tetap duduk di meja makan yang sama. Tetap berjalan berdampingan di acara keluarga. Tetap tersenyum di depan kamera. Dan justru di situlah letak lukanya—karena penderitaan yang paling dalam sering kali hidup berdampingan dengan rutinitas yang paling normal.
Tidak semua kesepian terjadi karena sendirian. Ada kesepian yang tumbuh subur di tengah dua orang yang tidur di ranjang yang sama.
Ia mengaku hidup seperti aktor dalam sandiwara panjang: menghafal dialog tentang kebersamaan, memainkan peran pasangan harmonis, bertepuk tangan untuk kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan.
Setiap pagi ia bangun bukan dengan rindu, melainkan dengan kewajiban. Setiap malam ia memejamkan mata bukan karena damai, tetapi karena lelah menahan pertanyaan: “Apakah inikah seluruh hidupku?” Ia tidak ingin bercerai. Ia juga tidak tahu bagaimana mencintai. Ia bertahan—bukan demi dirinya, melainkan demi wajah-wajah tua yang menaruh harapan di pundaknya: orang tua yang telah mengorbankan segalanya, keluarga yang percaya bahwa pernikahan ini adalah akhir bahagia. Dan di situlah tragedi itu lahir:
saat seseorang mengorbankan kejujuran hatinya demi membayar utang kebahagiaan orang lain.
Ketika ia bercerita kepada seseorang, suaranya bergetar. Ia berharap dimengerti. Namun bahkan tempat ia mengadu pun tak sepenuhnya percaya. “Kalau tidak bahagia, kenapa masih bersama?” “Kalau hampa, kenapa tampak baik-baik saja?” Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar logis, tetapi bagi orang yang terjebak di dalamnya, jawabannya tidak sesederhana pergi atau tinggal.
Ada pernikahan yang dipertahankan bukan karena melainkan karena rasa bersalah.
Ada rumah tangga yang tidak runtuh bukan karena kuat, melainkan karena penghuninya terlalu takut melukai orang lain. Ia tidak sedang mencari simpati. Ia tidak pula sedang mengarang penderitaan. Yang ia cari—barangkali—adalah izin untuk jujur pada dirinya sendiri. Izin untuk mengakui bahwa ia lelah berpura-pura. Izin untuk berkata bahwa bahagia di foto tidak selalu berarti bahagia di dada.
Lalu, Apa Sebenarnya yang Ia Inginkan? Di balik pengakuannya yang getir, terselip kerinduan yang sangat manusiawi: Ia ingin merasa hidup di dalam pernikahannya.
Bukan sekadar hadir. Bukan sekadar menjalankan peran. Bukan sekadar menunda luka. Ia ingin dicintai tanpa sandiwara. Ia ingin pulang tanpa beban akting. Ia ingin duduk bersama pasangannya bukan karena tuntutan status, melainkan karena hati yang benar-benar memilih. Tetapi di antara keinginan itu berdiri tembok tebal bernama pengorbanan. Pengorbanan yang awalnya terasa mulia, namun lama-lama berubah menjadi penjara yang sunyi.
Ada orang-orang yang hidupnya tampak utuh, padahal retak dari dalam. Ada pasangan yang tampak serasi, padahal masing-masing sedang belajar bertahan sendirian. Pernikahan semacam ini tidak selalu gaduh. Ia justru sunyi. Sunyi yang panjang. Sunyi yang sopan.
Sunyi yang tidak pernah diberi ruang untuk berbicara. Dan mungkin inilah jeritan terdalamnya: “Aku tidak ingin melukai siapa pun. Tapi mengapa, demi membuat semua orang bahagia, aku harus kehilangan diriku sendiri?”
Tulisan ini bukan untuk menghakimi.
Melainkan untuk mengingatkan: bahwa rumah tangga bukan sekadar proyek menjaga wajah keluarga, bukan pula panggung untuk membuktikan pada dunia bahwa semuanya baik-baik saja. Karena cinta yang terus dipaksa menjadi kewajiban akan berubah menjadi kelelahan. Dan kebahagiaan yang hanya dipertontonkan, lama-lama menjelma kesepian yang menggerogoti jiwa.
Jika ada seseorang yang hari ini tersenyum di luar namun menangis di dalam, barangkali ia tidak sedang mencari jalan keluar yang instan.
Ia hanya ingin satu hal yang paling mahal dalam pernikahan yaitu kejujuran—kepada pasangannya, kepada orang tuanya, dan terutama kepada dirinya sendiri.