KBBAcehnews.com | Tapaktuan – Dulu Ijazah Madrasah Dibuang-buang, Sosok Inilah yang Memperjuangkannya Hingga Diakui Negara. Terima Kasih, Prof. Zakiah Daradjat!
Pernahkah terbayang di benak kita, ada masa di mana lulusan Madrasah dianggap “warga kelas dua” di negeri sendiri?
Dulu, ijazah Madrasah sering kali hanya dianggap sebagai pelengkap administrasi agama. Anak-anak Madrasah sulit masuk universitas umum, apalagi bermimpi jadi dokter, insinyur, atau pejabat negara. Pintu masa depan mereka seolah terkunci rapat hanya karena pilihan sekolahnya.
Namun, sejarah berubah berkat keteguhan seorang perempuan hebat asal Minangkabau: Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat.
Diplomasi “SKB Tiga Menteri” yang Bersejarah
Di tahun 1970-an, posisi madrasah sangat terjepit. Kurikulumnya dianggap tidak sebanding dengan sekolah umum (SD/SMP/SMA). Di sinilah Zakiah Daradjat turun tangan. Sebagai seorang akademisi yang juga pejabat di Departemen Agama, ia tidak tinggal diam melihat ketidakadilan ini.
Dengan kecerdasan diplomasinya, ia membidani lahirnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tahun 1975. Inilah “Piagam Perjuangan” bagi santri Indonesia. Berkat kebijakan ini, negara akhirnya mengakui: Ijazah Madrasah setara dengan ijazah sekolah umum.
Tanpa perjuangan beliau, mungkin tidak ada ribuan alumni madrasah yang hari ini bisa menjabat sebagai menteri, rektor, hingga profesional hebat di berbagai bidang.
Dari Surau Minang Hingga Memukau Presiden Mesir
Mental pejuang Zakiah bukan datang tiba-tiba. Sejak usia 7 tahun, ia sudah ditempa disiplin tinggi antara sekolah umum dan sekolah agama. Kegigihannya membawanya terbang ke Mesir pada tahun 1956.
Bayangkan, di era itu ia menjadi satu-satunya mahasiswi perempuan Indonesia di Universitas Ain Shams, Kairo! Prestasinya begitu gemilang di bidang Psikologi Islam hingga Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasir, langsung memberikan “Medali Ilmu Pengetahuan” kepadanya.
Dunia internasional mengakuinya, namun hatinya tetap tertambat untuk memajukan pendidikan di tanah air.
“Hamka Versi Muslimah” yang Tetap Bersahaja
Meski namanya harum di Timur Tengah dan menjadi perempuan pertama yang duduk di kursi pimpinan MUI, Zakiah Daradjat adalah pribadi yang sangat lembut. Generasi 70-an hingga 90-an pasti ingat suara sejuknya saat memberikan ceramah di RRI dan TVRI.
Bahkan di masa pensiunnya, ia tetap membuka pintu rumahnya untuk konsultasi psikologi bagi siapa saja. Hebatnya, beliau seringkali tak mau menerima bayaran, terutama dari mereka yang kurang mampu. Baginya, ilmu adalah pengabdian, bukan sekadar komoditas.
Terima kasih, Prof. Zakiah Daradjat. Setiap langkah sukses anak madrasah hari ini adalah jejak perjuangan yang pernah Anda torehkan. Tanpamu, ijazah kami mungkin masih dianggap sebelah mata.
Mari kita kirimkan doa terbaik (Al-Fatihah) untuk beliau yang telah berpulang di usia 83 tahun, namun warisannya tetap hidup di setiap sudut Madrasah di seluruh penjuru Indonesia. (Red)