KBBAcehnews.com | Tapaktuan – Wilayah Tapak Tuan membentang di sepanjang pesisir pantai barat Selatan Aceh, dari Gunung Tangga Besi, yang berbatasan dengan Kluet, hingga Gunung Krambil yang berbatasan dengan Wilayah Samadua, pada akhir abad ke-19, jumlah penduduknya tercatat sekitar 2.837 jiwa (Tahun 1900), hampir seluruhnya berasal dari kelompok Melayu pesisir
Permukiman awal Tapak Tuan terbentuk melalui gelombang migrasi dari Sumatra Barat, terutama dari Pariaman dan Kampar, kedua kelompok ini datang secara bertahap dan membangun komunitas sendiri-sendiri di wilayah tersebut, sekitar dua abad lalu, terjadi perselisihan serius antara kelompok pendatang Pariaman dan Kampar, konflik ini bukan semata perebutan ruang hidup, tetapi juga menyangkut kepemimpinan dan legitimasi adat
Dalam konflik tersebut, kelompok Pariaman memperoleh dukungan militer dan politik dari Panglima Intjek Poeteh, kepala salah satu kelompok Pasaman yang bermukim di Alue Paku, dengan dukungan ini, kelompok Pariaman keluar sebagai pemenang, akibat kekalahan tersebut, orang-orang Kampar terdorong menetap lebih ke arah utara, sementara kekosongan permukiman di Tapak Tuan diisi oleh kelompok Pasaman yang berafiliasi dengan Panglima Intjek Poeteh
Setelah situasi relatif stabil, kelompok Pasaman kembali ke Tapak Tuan dan membentuk struktur kepemimpinan sendiri mereka memilih Datuk Raja Lela sebagai kepala, yang tetap berada di bawah pengaruh Panglima Intjek Poeteh, seiring waktu, Panglima Intjek Poeteh menyandang gelar Datuk Raja Ahmat, memperkuat legitimasi politiknya di kawasan ini
Dengan demikian, sejak fase ini, Tapak Tuan berkembang sebagai masyarakat multi kelompok yang dipimpin oleh elite adat dari Pariaman dan Pasaman,
Pelarian Dari Woyla
Pada masa yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa penting di wilayah pedalaman Woyla, Aceh Barat, sejumlah orang Melayu dari Lubuk Sikaping, yang dikenal sebagai suku Rao, terpaksa meninggalkan Woyla akibat konflik politik dengan Sulthan Aceh, konflik ini berkaitan dengan perlawanan Datuk Machdum Sati terhadap kewajiban upeti kepada Raja Aceh, perlawanan tersebut berujung pada ekspedisi militer Aceh, penangkapan Machdum Sati, dan pembawaannya ke Banda Aceh, atas kebesaran hati Sultan Aceh, Machdum Sati tidak dihukum mati, melainkan diampuni dan ditempatkan sebagai Panglima Taman Hiburan Pinto Khop, datuk ini akan melahirkan para Ulee Balang Vi Mukim Aceh Besar dan juga melahirkan dua Pahlawan Nasional Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien
Sebagian pengikutnya melarikan diri ke wilayah Nagan, namun ditolak, hingga akhirnya bergerak ke Tapak Tuan, dalam tradisi lisan masyarakat Woyla dan Aceh Barat, peristiwa ini dikenang melalui legenda Raja Tujoh (Raja Tujuh), dikisahkan bahwa tujuh tokoh adat dan agama, yang baru kembali dari perantauan di Minangkabau, singgah dan menetap sementara di Kampung Karak, Woyla
Ketujuh tokoh tersebut adalah, Raja Umpeing Beuso, Raja Bulu Kabak, Nenek Tagak Bumi, Raja Sungsang Buloh, Raja Meureudom (Machdum) Sakti, Raja Gagak, Raja Bungsu
Mereka tidak hanya berperan sebagai pemimpin adat, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial dan religius
Peran utama Raja Tujoh diwujudkan melalui pengajaran Alee Meunari, yang disampaikan di lembah Krueng Woyla, khususnya di kawasan Sarah Drien Boh Iteik, ajaran ini bertujuan membentuk tatanan sosial yang lebih tertib, religius, dan bermoral
Salah satu fokus utamanya adalah mengubah kebiasaan sosial yang dianggap merusak, seperti sabung ayam dan praktik perjudian, yang saat itu mengakar kuat, ajaran ini mendapat sambutan luas dan menjadi fondasi perubahan kultural di Woyla
Keberadaan mereka di Woyla ini menyisakan satu kata yaitu Gampong Pasi Lunak
Sebagian pelarian dari Woyla kemudian dibujuk oleh kepala suku Pariaman untuk menetap di Tapak Tuan, mereka dikenal sebagai suku Rao dan diberi ruang untuk membentuk kepemimpinan sendiri dengan gelar Datuk Bendahara, tetap berada di bawah otoritas kepala suku Pariaman
Sejak masa itu, komposisi penduduk Tapak Tuan relatif stabil, terdiri dari: Suku Pariaman, Suku Pasaman, Suku Rao (Lubuk).
T.Sukandi bin TM Ganti bin Datuk Jintan (Bergelar Datuk Raja Ahmat lX)