SAAT SENTIMEN MENJADI TIMBANGAN YANG RUSAK (Renungan tentang Keadilan, Hati, dan Amanah yang Harus Dijaga)

Akurat Mengabarkan - 12 Desember 2025
SAAT SENTIMEN MENJADI TIMBANGAN YANG RUSAK (Renungan tentang Keadilan, Hati, dan Amanah yang Harus Dijaga)
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
KBBAceh.News | Banda Aceh – Ada waktu-waktu tertentu dalam perjalanan hidup dan pengabdian, di mana manusia diuji bukan oleh beratnya pekerjaan, tetapi oleh beratnya hati orang lain. Kita bisa bekerja dengan aturan yang jelas, memegang nilai dengan kuat, dan berdiri pada kewajiban moral yang tak pernah kita sia-siakan. Namun, semua itu bisa roboh ketika keputusan diambil bukan berdasarkan kebenaran, tetapi berdasarkan rasa “suka atau tidak suka”.
Di sinilah luka itu bermula. Bukan pada tugas yang tidak dijalankan, tetapi pada hati yang dipaksa menyaksikan keadilan ditawar-tawar.
Keadilan yang Retak oleh Sentuhan Ego
Ketika seorang menolak pelaksanaan tugas bawahannya hanya karena kritik yang ia sampaikan benar, logis, dan sesuai aturan, maka sebenarnya bukan pekerjaan yang ditolak—melainkan kebenaran yang ditutup pintunya. Sentimen pribadi tiba-tiba berubah menjadi timbangan, dan timbangan itu rusak sejak awal.
Apa yang seharusnya ditimbang dengan aturan, malah ditimbang dengan rasa tidak nyaman.
Apa yang seharusnya dilihat dengan mata yang jernih, malah diselubungi oleh kabut ego dan gengsi.
Padahal Allah tidak pernah memerintahkan kita untuk merasa nyaman dalam menegakkan keadilan. Yang Allah perintahkan hanyalah tegas dan jujur, meski terhadap diri sendiri, meski terhadap orang yang paling kita sayangi, bahkan terhadap mereka yang paling kita benci.
Keadilan tidak mencari perasaan manusia; ia mencari keberanian manusia.
Dalam setiap struktur organisasi, ada satu hal yang tak boleh dilupakan: jabatan bukanlah hak pribadi, melainkan amanah publik. Karena itu, ketika sentimen pribadi menjauhkan seorang pekerja dari tugasnya, sebenarnya bukan ia yang dirugikan terlebih dahulu—tetapi masyarakat yang menunggu pelayanan, negara yang menunggu pengabdian, dan amanah yang menunggu untuk ditunaikan.
Sungguh, betapa beratnya dosa jika sebuah amanah disandarkan pada perasaan. Sebab perasaan itu labil, berubah, dan mudah goyah; sementara amanah membutuhkan kestabilan, keteguhan, dan keikhlasan.
Dalam takaran ilahiyah, seseorang tidak dinilai dari jabatannya, tetapi dari bagaimana ia memperlakukan jabatan itu.
Dan seseorang tidak diuji oleh kekuasaan yang besar, tetapi oleh bagaimana ia memperlakukan orang yang lebih lemah dari dirinya.
Keadilan tidak memerlukan rasa nyaman untuk ditegakkan. Ia hanya memerlukan sedikit keberanian, sedikit kejujuran, dan hati yang tidak takut pada konsekuensi dunia. Dan barangkali itulah seni paling sulit dalam memimpin: menerima bahwa kebenaran kadang datang dari orang yang lebih rendah jabatannya.
Ada pemimpin yang mudah tersinggung ketika dikritik. Ada pemimpin yang memadamkan cahaya orang lain karena takut kilauannya melebihi dirinya. Namun ada pula pemimpin yang menyadari bahwa cahaya itu milik Tuhan, dan siapa pun bisa menjadi perantara-Nya.
Dalam pandangan yang jernih, kritik bukan ancaman; ia adalah petunjuk. Dalam hati yang lapang, kritikan bukan tamparan; ia adalah nasihat.
Dan dalam jiwa yang benar-benar beriman, kritik adalah salah satu cara Allah mengingatkan bahwa kita tidak pernah benar sepenuhnya.
Pada akhirnya, sentimen yang merusak keadilan hanya akan melahirkan keretakan batin. Ia akan tinggal di hati sebagai kegelisahan, bahkan bagi pelakunya sendiri. Karena hati manusia—betapapun kerasnya—tetap memiliki ruang yang tidak bisa berdamai dengan ketidakadilan.
Sebab hati itu, jika masih hidup, pasti merindukan kebenaran. Dan jika ia mati, maka dunia ini tidak akan lagi memiliki cahaya.
Maka tugas kita bukanlah membalas ketidakadilan itu, tetapi menjaga agar hati kita tidak ikut rusak. Tidak ikut menjadi gelap. Tidak ikut menyimpan dendam.
Karena balasan terbaik bagi hati yang dilukai bukanlah kebencian, tetapi tetap setia pada prinsip kebenaran.
Kita bekerja bukan untuk manusia semata, tetapi untuk Allah yang Maha Melihat segala sesuatu—bahkan bisikan kecil yang disembunyikan dalam rapat, bahkan rasa yang disamarkan dalam keputusan.
Dan jika kita tetap berjalan di atas keadilan meski dilukai, maka bukankah itu yang membuat langkah kita bernilai di hadapan-Nya?
(By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!