By. Dr. Khairuddin, S. Ag. MA
KBBAcehnews.com | Tapaktuan – Ada sebuah pertanyaan yang hampir selalu muncul dalam perjalanan hidup manusia: mengapa orang baik sering tertindas? Mengapa mereka yang jujur justru dipinggirkan, yang tulus sering dilukai, dan yang berusaha lurus malah terlihat kalah oleh mereka yang licik?
Pertanyaan ini bukan sekadar keluhan zaman sekarang. Ia adalah pertanyaan tua, setua perjalanan manusia itu sendiri.
Jika kita melihat kehidupan dengan jujur, kita akan menemukan satu kenyataan: dunia tidak selalu memihak kepada yang baik, tetapi kebaikan selalu memihak kepada kebenaran. Dan kebenaran sering kali harus melewati jalan yang tidak mudah.
Bayangkan sebuah pohon yang berbuah lebat di tengah hutan. Pohon itu tidak pernah berjalan mencari manusia. Ia hanya berdiri tegak, memberi buah, memberi keteduhan. Namun justru karena ia berbuah, ia sering dilempari batu. Tidak ada orang yang melempari pohon yang tidak berbuah.
Begitulah nasib orang baik.
Sering kali mereka bukan tertindas karena lemah, tetapi karena mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain: nilai, kejujuran, dan keteguhan hati.
Orang yang licik biasanya bergerak cepat, seperti air hujan yang mengalir di permukaan tanah. Ia deras, terlihat banyak, dan tampak menguasai jalan. Tetapi ia hanya lewat sebentar lalu hilang.
Sedangkan kebaikan bekerja seperti air yang meresap ke dalam tanah. Ia tidak terlihat, tidak riuh, tidak dipuji orang banyak. Tetapi justru dari sanalah mata air kehidupan muncul.
Sejarah manusia penuh dengan contoh seperti ini. Banyak orang baik yang hidupnya tidak mudah. Mereka dicemooh, disalahpahami, bahkan ditindas. Namun pada akhirnya, waktu menjadi saksi bahwa yang bertahan bukanlah kelicikan, melainkan keteguhan dalam kebaikan.
Masalahnya sering bukan pada kebaikan itu sendiri, tetapi pada cara dunia memandang nilai. Dunia sering mengukur keberhasilan dengan kekuasaan, uang, atau pengaruh. Sementara orang baik sering memilih jalan yang berbeda: jalan yang lurus tetapi sunyi.
Ibarat berjalan melawan arus sungai, langkah orang baik memang lebih berat. Orang yang mengikuti arus akan terlihat cepat, tetapi mereka hanya terbawa oleh kekuatan air. Sedangkan yang melawan arus harus memiliki tenaga, arah, dan tujuan. Di sinilah letak rahasianya.
Kebaikan bukanlah jalan yang menjanjikan kenyamanan cepat. Ia adalah jalan yang menuntut kesabaran, keteguhan, dan keyakinan bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh penilaian manusia semata.
Sering kali orang baik terlihat kalah di hadapan manusia, tetapi mereka tidak pernah benar-benar kalah dalam makna kehidupan. Karena pada akhirnya, kehidupan tidak diukur dari berapa banyak orang yang kita kalahkan, tetapi dari seberapa jauh kita mampu menjaga hati tetap lurus ketika dunia mencoba membengkokkannya.
Maka jika suatu hari kita melihat orang baik tertindas, jangan terburu-buru menganggap kebaikan itu lemah. Bisa jadi mereka hanya sedang menjalani hukum kehidupan yang paling tua:
bahwa emas harus melewati api sebelum ia dikenal sebagai emas.
Dan orang baik, seperti emas itu, sering kali harus melewati panasnya dunia sebelum kemuliaannya benar-benar terlihat. (Red)