KBBAcehnews.com | Moskow – Rusia berencana melarang ekspor gasoline atau bensin mulai 1 April 2026. Larangan ekspor ini diambil demi memenuhi permintaan domestik karena harga bahan bakar global melonjak di tengah perang di Timur Tengah.
Dilansir dari CNBC Internasional, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak telah memerintahkan Kementerian Energi untuk menyiapkan rancangan undang-undang yang melarang ekspor tersebut. Dalam sebuah pertemuan dengan para produsen minyak Rusia, Novak mengatakan bahwa konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel Vs Iran telah membuat harga minyak global melambung.
“Gejolak di pasar global untuk minyak mentah dan produk minyak, yang didorong oleh krisis Timur Tengah, telah menyebabkan volatilitas harga yang signifikan,” katanya.
Novak menambahkan bahwa volatilitas ini terjadi karena produk minyak Rusia mengalami permintaan global yang tinggi.
Adapun ekspor bensin Rusia mencapai sekitar 100.000 barel per hari. Jumlah ekspor itu hanya sebagian kecil dari volume perdagangan global untuk produk tersebut.
Namun, pasar minyak sudah tegang karena perang Iran diperkirakan akan memasuki bulan kedua. Apalagi, Selat Hormuz yang merupakan jalur utama untuk ekspor energi dari negara-negara Teluk, telah ditutup secara efektif sejak akhir Februari.
Hal itu menyebabkan pasokan yang lebih ketat di seluruh dunia. Pembatasan lebih lanjut dalam perdagangan bahan bakar global hanya akan memperburuk tantangan bagi negara-negara pengimpor minyak.
Pada saat yang sama, Ukraina tanpa henti menyerang infrastruktur minyak Rusia, termasuk kilang minyak, mengganggu kemampuan Rusia untuk memproduksi dan menjual minyak.
Sejak awal Maret 2026, serangan drone telah menghentikan dua fasilitas pengolahan minyak Rusia, pabrik Saratov milik Rosneft PJSC di wilayah Volga dan kilang Kirishi milik Surgutneftegas PJSC di dekat pantai Baltik. Fasilitas tersebut menyumbang kurang dari 10% dari total operasi kilang minyak nasional.
Selama beberapa tahun terakhir, Rusia telah menghentikan ekspor bensin menjelang periode permintaan tinggi seperti musim semi dan musim gugur, ketika pekerjaan pertanian mencapai puncaknya. Larangan ekspor terbaru untuk produsen bensin baru dicabut pada bulan Februari.
Sementara itu, Xinhua mencatat langkah pelarangan ekspor bensin merupakan terjemahan tugas yang ditetapkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin yang mencegah kenaikan harga bahan bakar domestik melebihi tingkat yang diproyeksikan.
Wakil Perdana Menteri mencatat bahwa gejolak di pasar minyak dan produk petroleum global yang disebabkan oleh krisis di Timur Tengah menyebabkan fluktuasi harga yang signifikan. Novak juga menambahkan bahwa tingginya permintaan akan sumber daya energi Rusia di pasar luar negeri tetap menjadi faktor positif. (Red)