By Dr. Khairuddin, S. Ag. MA
KBBAcehnews.com | Banda Aceh – Ada satu kesalahan paling mendasar dalam hidup manusia: kita mengira Allah itu jauh.
Padahal yang jauh bukan Allah— yang jauh adalah kesadaran kita. Kita berjalan di bawah langit yang sama setiap hari, menatap hamparan bumi, menghirup udara yang tak pernah kita bayar, namun tetap saja kita merasa hidup ini kosong. Seolah-olah dunia ini berdiri sendiri, tanpa makna, tanpa arah.
Padahal Al-Qur’an telah menegaskan: alam ini bukan benda mati— ia adalah bahasa Tuhan yang tidak bersuara. Langit bukan sekadar biru,ia adalah isyarat keluasan kekuasaan-Nya.
Gunung bukan sekadar batu, ia adalah keteguhan yang ditanamkan-Nya.
Dan hidupmu— bukan sekadar rangkaian peristiwa, ia adalah dialog panjang antara engkau dan Allah.
Tetapi kita buta. Bukan karena mata tidak melihat, melainkan karena hati tidak membaca. Menemukan Allah bukan perjalanan kaki, bukan pula perjalanan jarak. Ia adalah perjalanan pulang— dari luar ke dalam,
dari bising ke hening, dari lalai ke sadar.
Saat engkau mulai berpikir, bertanya dengan jujur tentang hidup ini, tentang asal dan tujuan— di situlah langkah pertama dimulai.
Akalmu mengetuk pintu, dan semesta menjawab: “Tidak mungkin semua ini tanpa Pencipta.” Namun akal saja tidak cukup. Ia hanya menunjukkan arah, tidak mengantarkan sampai. Karena itu engkau harus turun lebih dalam— ke dalam dirimu sendiri.
Di sana ada kegelisahan yang tak bisa dijelaskan, ada rasa hampa di tengah kelimpahan, ada ketakutan saat sendiri.
Itulah jejak Allah dalam jiwamu— fitrah yang tidak bisa berdusta. Dan ketika hidup menghimpitmu, ketika semua sandaran runtuh, tanpa diajari siapa pun, engkau akan memanggil-Nya.
Mengapa?
Karena jauh di dalam dirimu, engkau sebenarnya sudah mengenal-Nya. Namun mengenal belum berarti dekat. Banyak orang tahu tentang Allah, tetapi tidak merasakan Allah. Mereka shalat, tetapi tidak bertemu.
Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi tidak mendengar. Mereka berzikir, tetapi hatinya tetap sunyi.
Mengapa?
Karena hati mereka tertutup— oleh dosa yang diremehkan, oleh kesibukan yang tidak perlu,
oleh ego yang tidak mau tunduk. Hati itu seperti cermin. Jika ia kotor, maka cahaya sebesar apa pun tidak akan tampak.
Di sinilah pentingnya penyucian. Istighfar bukan sekadar ucapan, ia adalah proses membersihkan karat jiwa. Sedikit demi sedikit,
ketika hati mulai jernih, engkau akan merasakan sesuatu yang berbeda: Tenang bukan karena masalah hilang, tetapi karena Allah terasa dekat. Dan puncaknya adalah ketika Al-Qur’an tidak lagi sekadar bacaan,
melainkan menjadi suara Tuhan dalam hidupmu. Setiap ayat terasa berbicara, setiap perintah terasa memanggil, setiap larangan terasa menjaga.
Di titik itu, engkau tidak lagi mencari Allah di luar sana. Engkau menemukan-Nya dalam setiap detik kehidupanmu. Dalam langkahmu.
Dalam nafasmu. Dalam diam dan doamu.
Menemukan Allah bukan berarti melihat-Nya dengan mata, tetapi melihat segalanya dengan-Nya. Bukan berarti hidupmu tanpa ujian, tetapi hidupmu penuh makna. Bukan berarti engkau menjadi sempurna, tetapi engkau tahu ke mana harus kembali setiap kali jatuh. Maka berhentilah mencari Allah seolah-olah Dia tersembunyi di tempat jauh. Dia tidak pernah pergi. Yang pergi adalah perhatianmu. Yang hilang adalah kesadaranmu.
Kembalilah.
Berpikir. Merenung. Membersihkan hati.
Membaca Al-Qur’an dengan jiwa, bukan sekadar suara. Dan engkau akan sadar—
Allah tidak pernah jauh. Engkaulah yang selama ini menjauh. (Red)