By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – Kesulitan hidup sering kali berawal dari satu titik kecil: cara kita berpikir. Pikiran yang sempit, penuh keluhan, dan selalu memandang kekurangan, lama-kelamaan menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan itu lahir ucapan, “Aku sedang sulit, aku tidak punya apa-apa.” Ucapan itu akhirnya menempel di hati, lalu membentuk kenyataan dalam hidupnya sendiri.
Islam mengajarkan sesuatu yang berbeda. Kita diajak untuk memberi, bahkan di saat merasa tidak punya banyak. Memberi dengan ikhlas, bukan untuk dipuji, melainkan sebagai latihan agar hati lapang. Sebab hati yang lapang akan melahirkan ketenangan.
Ketika hati tenang, pikiran pun jernih. Dari kejernihan itu, lahir cara berpikir yang sistematis, tidak lagi kacau atau terburu-buru. Pikiran yang sistematis akan menemukan jalan keluar: ide-ide baru, peluang yang sebelumnya tidak terlihat, dan keberanian untuk mencoba. Dari sinilah rezeki sering kali datang, bukan semata dari besar kecilnya harta yang kita punya, tapi dari kelapangan hati yang kita ciptakan.
Analogi sederhananya seperti air yang mengalir. Jika sungai tersumbat oleh sampah, air akan meluap dan menimbulkan masalah. Namun ketika aliran itu dibersihkan, air akan mengalir lancar, membawa kesuburan bagi tanah di sekitarnya. Begitu pula dengan hati—jika tersumbat oleh keluhan dan rasa kekurangan, pikiran kita macet, rezeki pun terasa seret. Tapi jika hati kita lapang dengan ikhlas memberi, aliran hidup menjadi lancar, ide-ide tumbuh, jalan keluar terbuka.
Di sinilah letak indahnya ungkapan: “Saat kita memberi, pada saat yang sama kita menerima.”
Bukan sekadar menerima balasan dalam bentuk materi, tapi menerima ketenangan, kelapangan, dan kekuatan batin yang membuat kita sanggup melangkah lebih jauh.
Maka, jangan tunggu kaya untuk memberi, jangan tunggu lapang untuk melapangkan. Mulailah dari yang kecil—seulas senyum, sebait doa, sebungkus nasi, sepotong waktu untuk mendengar. Sebab memberi tidak pernah merugikan, justru menumbuhkan kembali keyakinan bahwa Allah selalu bersama orang yang hatinya ikhlas. (Red)