KBBAcehnews.com | Tapaktuan – Kita tentu tidak ingin Kabupaten Aceh Selatan tumbuh dengan budaya “terlambat sudah”, sebuah pola pikir yang bertindak lebih dulu, lalu baru berpikir belakangan
Budaya semacam ini perlahan namun pasti hanya akan menyeret kita ke lembah penyesalan panjang, karena keputusan diambil tanpa pertimbangan matang atas dampak dan konsekuensinya di masa depan
Sudah saatnya kita membalikan cara berpikir kita seperti itu, berpikir sebelum bertindak bukanlah tanda keraguan, melainkan wujud kedewasaan dan kebijaksanaan, dengan pertimbangan yang matang, setiap langkah yang diambil akan lebih tepat, akurat, dan visioner, kesalahan dan pengalaman pahit di masa lalu seharusnya menjadi guru terbaik agar kita tidak terjatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya
Namun, di tengah dorongan perubahan dan modernisasi, ada satu hal penting yang tidak boleh kita abaikan, adat budaya dan tradisi daerah, meninggalkan adat budaya sama artinya dengan mengikis identitas diri kita sendiri
Ketika identitas melemah, kita menjadi rapuh dan mudah terseret oleh pengaruh budaya asing yang belum tentu sejalan dengan nilai, norma, dan jati diri masyarakat Aceh Selatan
Adat budaya dan tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi yang membentuk watak dan karakter masyarakat hari ini dan masa depan
Di sanalah tercermin siapa kita sebenarnya, melupakan adat budaya berarti melupakan akar, dan karakter bangsa yang tercerabut dari akarnya akan membuat kita kehilangan arah dalam melangkah
Karena itu, menjaga dan melestarikan adat budaya serta tradisi positif daerah bukan pilihan, melainkan keniscayaan, dengan memegang teguh nilai-nilai tersebut, kita dapat membangun masyarakat yang bijak, berkarakter, dan memiliki identitas yang kua, masyarakat yang mampu berpikir jauh ke depan dengan tanpa kehilangan jati dirinya
Aceh Selatan tidak boleh menjadi korban budaya “terlambat sudah”. Kita harus menjadi masyarakat yang visioner dalam membangun daerah, seraya tetap memelihara adat budaya dan tradisi yang kita banggakan bersama. Sebab, jika bukan kita yang menjaga dan melestarikannya, lalu siapa lagi?
(T.Sukandi For-Pas)