By. Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA
KBBAcehnews.com | Banda Aceh – Ada satu bentuk kezaliman yang paling halus, namun paling berbahaya. Ia tidak datang dengan teriakan, tidak membawa senjata, dan tidak menampakkan wajah kebencian. Justru ia sering dibungkus dengan senyum, basa-basi, dan dalih menjaga perasaan. Kezaliman ini lahir dari cinta yang keliru dan persahabatan yang kehilangan arah.
Seseorang melihat sahabatnya berjalan di atas kebatilan. Ia tahu jalan itu salah. Ia paham bahwa langkah itu akan menyeret temannya pada kerugian, bukan sekadar di dunia, tetapi hingga ke akhirat. Namun ia memilih diam. Ia memilih memuji, menenangkan, bahkan kadang ikut membenarkan, hanya demi menjaga hubungan tetap hangat dan persahabatan tetap utuh.
Di sinilah logika iman diuji. Apakah cinta yang sejati adalah membiarkan orang yang kita sayangi menuju jurang, hanya karena kita takut kehilangan kedekatan? Ataukah cinta justru menuntut keberanian untuk meluruskan, meski berisiko retak, bahkan putus? Diam dalam kondisi seperti ini bukan netralitas. Diam adalah keberpihakan. Dan keberpihakan kepada kebatilan—meski dibungkus kesetiaan—tetaplah kezaliman. Bahkan lebih kejam, karena ia menghancurkan dari dalam, tanpa perlawanan.
Logika yang jernih akan berkata: jika kita mampu mencegah kerugian besar, namun memilih membiarkannya demi kenyamanan emosional, maka kita telah menukar kebenaran dengan perasaan. Kita telah menjadikan persahabatan sebagai alasan untuk mengkhianati amanah akal dan iman.
Persahabatan yang sejati bukanlah hubungan yang hanya saling memelihara senyum, tetapi yang saling menjaga arah. Sahabat bukan cermin yang hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat, melainkan jendela yang menunjukkan apa yang perlu kita sadari.
Karena itu, menegur sahabat yang salah—dengan adab, dengan hikmah, dan dengan ketulusan—bukan bentuk pengkhianatan, melainkan puncak cinta. Sedangkan membiarkannya tenggelam dalam kesalahan, sambil tetap memanggilnya “teman”, itulah kezaliman yang paling besar: kezaliman yang lahir dari takut kehilangan manusia, tetapi lupa takut kehilangan kebenaran.
Pada akhirnya, persahabatan yang diridhai bukan yang bertahan lama di dunia, melainkan yang saling menyelamatkan di akhirat. Dan cinta yang sejati bukan yang selalu menyenangkan, tetapi yang berani menyakitkan demi keselamatan. (Red)