KETIKA ALAM MENGAJARKAN SYUKUR

Akurat Mengabarkan - 16 Oktober 2025
KETIKA ALAM MENGAJARKAN SYUKUR
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
KBBAceh.News | Tapaktuan – Indahnya alam yang terbentang luas adalah kitab tanpa huruf yang ditulis langsung oleh tangan kebesaran Allah. Setiap helai daun, setiap desir angin, setiap cahaya matahari yang menembus celah pepohonan—semuanya bertasbih dalam bahasa yang mungkin tak kita pahami, namun dapat kita rasakan dengan hati yang jernih.
Lihatlah hutan yang rimbun, betapa rapi keseimbangan yang Allah ciptakan. Pohon-pohon berdiri dengan tegak, memberi naungan bagi rumput kecil di bawahnya. Burung-burung berkicau tanpa merasa lebih tinggi dari semut yang berbaris mencari rezeki. Semua makhluk hidup di dalamnya berjalan dalam irama yang sama: saling menjaga, bukan saling meniadakan.
Matahari pun bersinar tanpa henti, menerangi bumi tanpa memilih di mana harus jatuh cahayanya. Ia tak pernah sombong karena jasanya yang besar, sebagaimana lautan tak pernah congkak meski menjadi sumber kehidupan yang luas. Semuanya tunduk kepada perintah Tuhan, menjalankan fungsi masing-masing dengan penuh kesadaran akan keterbatasannya.
Begitulah semestinya manusia—makhluk yang diberi akal untuk membaca tanda-tanda kebesaran-Nya. Alam tidak pernah menyombongkan dirinya, karena ia tahu siapa Penciptanya. Sementara manusia sering kali terjebak dalam rasa ingin diakui, ingin dihormati, ingin dipuji. Padahal, bila kita menundukkan pandangan dan menatap ciptaan Allah yang luas ini, kita akan sadar: betapa kecilnya diri kita di hadapan-Nya.
Tafakkur terhadap alam membawa kita pada satu kesimpulan yang lembut namun dalam: segala sesuatu diciptakan untuk saling melengkapi, bukan saling mengalahkan. Burung butuh pohon untuk bersarang, pohon butuh hujan untuk tumbuh, hujan butuh awan, awan butuh angin, dan semuanya butuh kehendak Allah untuk terus berputar dalam harmoni.
Maka ketika kita memandangi gunung, laut, dan langit yang biru, biarlah hati kita berbisik lirih:
“Ya Allah, betapa sempurnanya ciptaan-Mu, dan betapa tidak pantasnya aku bila masih mengeluh atas bagian kecil yang Engkau titipkan padaku.”
Dari sinilah lahir rasa syukur sejati — bukan hanya karena nikmat yang kita miliki, tapi karena kita masih diberi kesempatan untuk melihat, merasakan, dan merenungi keindahan ciptaan-Nya. Alam mengajarkan kita untuk rendah hati, karena di balik keindahannya, tersimpan pesan yang dalam: semua makhluk diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan agar saling menjaga, bukan saling membanggakan.
Dan ketika hati mampu membaca pesan itu, di sanalah tafakkur berubah menjadi ibadah, dan ibadah melahirkan syukur yang tak pernah habis.
(By. Dr. Khairuddin, S. Ag. MA)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!