By. Dr. Khairuddin, S. Ag. MA
KBBAcehnews .com | Tapaktuan – Ada orang tua yang sangat bangga ketika anaknya berhasil mendapatkan pekerjaan, jabatan, atau kedudukan tertentu. Rasa bangga itu sebenarnya adalah sesuatu yang wajar. Setiap orang tua tentu ingin melihat anaknya berhasil.
Namun kadang kebanggaan itu diceritakan dengan cara yang tidak baik.
Ada yang berkata dengan nada bangga:
“Anak saya bisa dapat pekerjaan itu karena saya kenal orang dalam.”
“Kami harus keluarkan uang supaya urusannya cepat selesai.” “Kalau tidak pakai cara begitu, tidak mungkin bisa.” Bahkan cerita seperti ini dituliskan di media sosial, seolah-olah itu adalah prestasi besar yang patut dipamerkan.
Padahal tanpa disadari, kebanggaan seperti ini sedang menyebarkan pesan yang keliru kepada masyarakat.
Orang yang membaca atau mendengar cerita itu bisa mulai berpikir: “Oh, ternyata memang harus begitu caranya.” “Kalau tidak menyogok, berarti tidak akan berhasil.” Akhirnya, satu cerita kebanggaan bisa berubah menjadi pembenaran bagi perbuatan yang salah.
Padahal dalam kehidupan, tidak semua yang membuat kita bangga adalah sesuatu yang benar di hadapan Allah dan di hadapan nurani.
Ada keberhasilan yang terlihat tinggi, tetapi fondasinya rapuh.
Ada kebanggaan yang terlihat indah, tetapi di dalamnya tersimpan ketidakjujuran. Seseorang boleh saja berhasil, tetapi keberhasilan yang dibangun dari jalan yang tidak baik ibarat rumah yang berdiri di atas pasir. Dari jauh terlihat kokoh, tetapi sedikit saja badai datang, ia akan runtuh.
Sebaliknya, keberhasilan yang dibangun dengan kejujuran mungkin terlihat lebih lambat. Tetapi ia seperti pohon yang tumbuh dari akar yang kuat. Semakin lama justru semakin kokoh.
Karena itu, yang perlu dibanggakan bukan hanya hasilnya, tetapi cara mencapainya.
Jika anak berhasil dengan cara yang jujur, itu adalah kebanggaan yang menenangkan hati.
Namun jika keberhasilan itu lahir dari jalan yang tidak baik, maka sebenarnya bukan kebanggaan yang sedang dipamerkan, tetapi sebuah pelajaran buruk yang sedang diwariskan kepada masyarakat.
Kadang kita lupa bahwa setiap cerita yang kita sampaikan kepada orang lain bukan hanya sekadar cerita, tetapi juga nilai yang sedang kita sebarkan. Dan nilai yang buruk, jika sering diulang dan dibanggakan, lama-kelamaan bisa dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Maka lebih baik kita berhati-hati dengan kebanggaan kita. Sebab kebanggaan yang paling indah bukan ketika orang lain berkata, “Dia berhasil.” Tetapi ketika orang lain berkata, “Dia berhasil dengan cara yang bersih.”
Fenomena membanggakan keberhasilan melalui cara yang tidak baik sebenarnya memiliki beberapa dampak sosial yang serius.
1. Normalisasi Perilaku Tidak Etis
Ketika seseorang secara terbuka menceritakan bahwa keberhasilan dicapai melalui sogokan atau koneksi yang tidak benar, maka pesan yang diterima masyarakat adalah: “Cara yang tidak benar adalah cara yang biasa.”
Dalam ilmu sosial, ini disebut normalisasi penyimpangan, yaitu ketika perilaku yang seharusnya dianggap salah justru menjadi hal yang dianggap biasa karena sering dilihat dan didengar.
Jika hal ini terus terjadi, maka standar moral masyarakat perlahan akan menurun.
2. Efek Imitasi Sosial
Manusia belajar dari contoh yang ia lihat.
Ketika seseorang melihat keberhasilan yang dibanggakan melalui cara yang tidak baik, maka akan muncul dorongan untuk meniru cara tersebut.
Bukan karena orang itu jahat, tetapi karena ia melihat cara itu terlihat efektif.
Inilah yang disebut dalam sosiologi sebagai social learning, yaitu belajar dari perilaku orang lain.
3. Rusaknya Sistem Merit
Dalam sistem yang sehat, keberhasilan harus didasarkan pada kemampuan, kerja keras, dan integritas.
Namun jika keberhasilan lebih sering dicapai melalui sogokan atau koneksi, maka yang terjadi adalah kerusakan sistem merit.
Akibatnya:
Orang yang jujur tersingkir
Orang yang kompeten kalah
Orang yang curang justru unggul
Dalam jangka panjang, ini akan merusak kualitas lembaga dan organisasi.
Bayangkan ada sebuah sumber air yang jernih.
Namun seseorang menuangkan sedikit racun ke dalamnya. Mungkin racunnya tidak banyak, tetapi ketika air itu mengalir ke banyak tempat, maka racun itu ikut tersebar.
Begitu juga cerita kebanggaan tentang cara yang tidak baik. Satu cerita mungkin terlihat kecil, tetapi ketika didengar banyak orang, ia bisa mencemari cara berpikir masyarakat. (Red)