Ini Alasan Kenapa Perang Yarmuk Masih dipelajari di Akademi Militer

Akurat Mengabarkan - 15 Februari 2026
Ini Alasan Kenapa Perang Yarmuk Masih dipelajari di Akademi Militer
Gambar Ilustrasi  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

KBBAcehnews.com | Tapaktuan – Pada tahun 636 M, sebuah pertempuran di lembah Sungai Yarmuk mengubah peta kekuatan Timur Tengah untuk selamanya. Peristiwa ini dikenal sebagai Pertempuran Yarmuk, sebuah bentrokan besar antara pasukan Muslim dan Kekaisaran Bizantium—salah satu imperium paling kuat di dunia saat itu.

Pertempuran ini berlangsung di wilayah Syam, tepatnya di sekitar lembah Sungai Yarmuk yang kini berada di kawasan perbatasan Suriah–Yordania. Lokasi ini bukan medan terbuka biasa. Sungai, jurang-jurang curam, dan dataran sempit membentuk perangkap alam yang kelak menjadi faktor penentu kemenangan.

Dari sisi kekuatan militer, ketimpangan jumlah pasukan sangat mencolok. Sumber-sumber sejarah klasik mencatat pasukan Muslim berkisar antara 15.000 hingga 40.000 prajurit. Sementara itu, pasukan Kekaisaran Bizantium diperkirakan mencapai 100.000 hingga bahkan lebih dari 200.000 orang. Meski angka pastinya masih diperdebatkan oleh sejarawan modern, satu hal disepakati: pasukan Muslim bertempur dalam kondisi kalah jumlah secara signifikan.

Kunci kemenangan berada pada kepemimpinan Khalid bin Walid, panglima perang pasukan Muslim yang saat itu menjabat sebagai komandan lapangan utama. Ia dikenal dengan julukan Saifullah al-Maslul, Pedang Allah yang Terhunus, sebuah gelar yang mencerminkan reputasinya sebagai ahli strategi dan taktik militer.

Di medan Yarmuk, Khalid bin Walid menerapkan pendekatan yang tidak lazim pada zamannya. Ia membentuk unit kavaleri bergerak cepat yang berfungsi sebagai pasukan pemukul. Unit ini tidak bertempur statis, melainkan terus bergerak: menyerang titik lemah formasi musuh, memukul sayap pasukan Bizantium, lalu segera berpindah sebelum lawan sempat merespons.

Keunggulan jumlah pasukan Bizantium justru berubah menjadi kelemahan. Formasi mereka yang besar dan kaku kesulitan bermanuver di medan sempit lembah Yarmuk. Khalid dengan cermat memanfaatkan kondisi geografis ini, memaksa pasukan Bizantium bertempur dalam ruang yang terbatas, kehilangan koordinasi, dan tertekan secara psikologis oleh serangan berulang.

Pertempuran berlangsung selama beberapa hari dengan intensitas tinggi. Pada akhirnya, pasukan Bizantium mengalami kekalahan telak. Kekalahan ini menandai berakhirnya dominasi Kekaisaran Bizantium di wilayah Syam dan membuka jalan bagi penyebaran Islam ke Suriah, Palestina, dan kawasan sekitarnya.

Hingga hari ini, Pertempuran Yarmuk dipelajari sebagai contoh klasik dalam sejarah militer dunia: bahwa keunggulan jumlah pasukan tidak otomatis menjamin kemenangan. Strategi yang tepat, kepemimpinan yang kuat, disiplin pasukan, dan pemanfaatan medan perang dapat membalikkan keadaan secara dramatis. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!