IKHTIAR TANPA PANIK

Akurat Mengabarkan - 7 Januari 2026
IKHTIAR TANPA PANIK
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

BY Dr. Khairuddin, S.Ag. MA

KBBAcehnews.com | Banda Aceh – Kadang-kadang dalam hidup ini, kita mendapati seseorang yang terlihat sangat waspada. Ada sedikit tanda bahaya, ia sudah mulai bersiap. Ada kabar tentang potensi musibah, ia sudah memikirkan langkah antisipasi. Sementara orang lain masih bisa tertawa-tawa, ia malah sudah memasukkan sepatu ke dalam tas darurat—siap lari kapan saja.

Lalu mulailah komentar muncul:

“Ah, terlalu lebay.” “Terlalu takut, kurang iman kali ya.” Padahal dalam hatinya ia merasa, “Bukannya aku takut berlebihan, tapi hanya ingin berjaga-jaga.”

Nah, di sinilah menariknya. Dalam Islam, sikap seperti ini justru punya tempat yang terhormat—asal tetap seimbang.

Dalam khazanah Islam, ada istilah الاحتياط (al-iḥtiyaṭ) yang artinya berhati-hati, dan istilah الأخذ بالأسباب (al-akhzu bil-asbab) yang berarti mengambil sebab atau ikhtiar.

Maksudnya kita hidup di dunia nyata yang tunduk pada sunnatullah, kalau hujan, kita cari payung. Kalau banjir, jangan malah berenang sambil bilang, “Saya tawakal.” Itu namanya… ya cari masalah. Tawakal itu letaknya di hati, sementara badan tetap bekerja dan berikhtiar.

Rasulullah SAW suatu ketika bersabda “Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)

Hadits diatas jika dengan nahasa agak bebasnya begini: jangan bilang “aku tawakal” tapi untanya dibiarkan keluyuran ke kebun orang. Nanti yang datang bukan pahala, tapi komplain tetangga.

Bahkan para sahabat pun begitu. Umar bin Khattab pernah menolak masuk ke daerah yang sedang terkena wabah penyakit. Ketika ada yang bertanya,

“Apakah engkau lari dari takdir Allah?” Beliau menjawab dengan tenang: “Ya, aku lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.”

MasyaAllah. Rapi betul cara berpikirnya.

Dalam Islam, sikap berhati-hati itu terpuji selama tidak sampai menuduh Allah tidak melindungi, tidak menimbulkan panik berlebihan, tidak mengganggu ibadah dan tetap disertai tawakal

Kalau masih dalam batas wajar, itu namanya iḥtiyaṭ—bukan “parno”. Namun jika sudah sampai mencurigai semua orang, takut berlebihan tanpa sebab dan merasa dunia mau runtuh tiap hari, nah, itu sudah masuk wilayah وسواس (was-was)—dan harus diluruskan. Karena hidup bukan hanya tentang menghindar dari bahaya, tetapi juga menenangkan hati.

Islam mengajarkan keseimbangan indah Ikhtiar secara rasional, Tetap tenang dan tidak panik dan Serahkan hasilnya kepada Allah

Karena tanpa ikhtiar → namanya pasrah yang malas, tanpa tawakal → namanya cemas yang capek dan dengan keduanya → itulah iman yang dewasa

Dan kalau suatu hari ada orang bilang, “Kenapa kamu terlalu hati-hati?” Jawablah pelan-pelan:

“Saya hanya sedang mengambil sebab. Selebihnya saya serahkan kepada Allah.”

Tambahkan sedikit senyum. Jangan terlalu serius nanti dikira marah. Karena hidup ini sudah cukup serius — masa wajah kita ikut tegang terus?

Berdasarkan uraian diatas bahwa hati-hati itu bukan berarti pengecut. Berikhtiar itu bukan berarti kurang iman, Justru dengan: kehati-hatian yang bijak, akal sehat yang jernih dan hati yang bertawakal kita belajar berjalan di dunia dengan tenang—tanpa lengah, tapi juga tanpa resah. Karena pada akhirnya, yang menjaga kita tetaplah Allah, sementara ikhtiar hanyalah bentuk penghormatan kita kepada sunnah-Nya.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!