IBLIS TERSANDUNG SOMBONG

Akurat Mengabarkan - 31 Desember 2025
IBLIS TERSANDUNG SOMBONG
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By Dr. Khairuddin, S. Ag. MA

KBBAcehnews.com | Banda Aceh – Ada sebuah ironi yang sering luput kita renungi: iblis itu bukan makhluk bodoh. Ia pernah berdialog langsung dengan Allah. Ia tahu perkara-perkara yang manusia tidak tahu. Kalau soal “akses informasi”, iblis mungkin setara pejabat utama langit. Kalau soal “pengalaman spiritual”, ia sudah lebih dulu beribadah bahkan sebelum manusia diciptakan. Tetapi, dengan semua itu, derajatnya terjerembab ke titik yang paling rendah—bukan karena kurang iman, bukan karena kurang ilmu, tapi karena satu penyakit yang sering dianggap sepele: sombong.

Sombong itulah kutu kecil yang mampu merobohkan bangunan spiritual sebesar gunung. Iblis tidak menyangkal keberadaan Allah. Ia tidak pernah ateis. Ia tahu Allah itu ada—bahkan ia berbicara langsung dengan-Nya. Namun, di saat ia diminta sujud kepada Adam, ia menolak sambil membawa pembenaran teologis versi dirinya sendiri. Bahasa halusnya: “Aku lebih baik. Aku api, dia tanah.” Bahasa kasarnya: “Aku tak sudi.”

Di sinilah letak kehancurannya.

Bukan pada ketidaktahuan, tapi pada ketidaksediaan merendah.

Dan di titik ini manusia diuji. Manusia mungkin tidak punya ilmu setinggi iblis, tidak pula punya pengalaman dialog langsung dengan Tuhan. Tetapi manusia diberi satu kunci yang jika dipakai dengan benar, bisa melejitkan martabatnya melewati langit ketujuh—bahkan melampaui iblis: kerendahan hati.

Bayangkan Seandainya iblis membuka seminar spiritua tentang “Bagaimana Mencapai Level Makhluk Paling Dekat dengan Tuhan.” Ia bisa memaparkan: pengalaman ribuan tahun, ibadah yang panjang, pengetahuan ghaib,

teori keikhlasan versi dirinya. Namun, tepat di sesi tanya jawab, ketika ada peserta bertanya:

“Lalu, mengapa Anda gagal?” Ia terbatuk kecil dan menjawab: “Hmm… hanya satu: saya tidak mau kalah dari manusia.”

Lucu, tetapi juga menyedihkan.

Ia tumbang bukan karena kurang pintar, tetapi karena tidak tahan melihat ada makhluk lain diberi kehormatan.

Sombong itu seperti rayap. Ia kecil, tetapi bisa memakan habis seluruh rumah amal dan ibadah. Kerendahan hati itu seperti pondasi. Ia tidak terlihat, tapi menopang seluruh bangunan kebaikan.

Maka pelajaran paling sederhana tapi paling berat adalah Jadilah sungai yang mengalir, bukan gunung yang hanya berdiri.

Karena kadang, yang rendah justru paling memberi kehidupan. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!