By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA
Ada orang yang hidupnya penuh notifikasi, tetapi hatinya sunyi. Ada yang jadwalnya padat, rekeningnya aman, statusnya tinggi—namun dadanya sempit. Lalu kita bertanya: di mana letak “hidup yang baik” itu?
Al-Qur’an menjawab dalam Surah Maryam Ayat 97 dengan satu frasa yang singkat namun dalam: ḥayatan ṭayyibah. Dimana Allah tidak menjanjikan hidup tanpa masalah. Allah menjanjikan hidup yang tetap utuh meski masalah datang silih berganti. Itulah perbedaan besar yang sering luput dipahami.
Para mufassir klasik sepakat pada satu titik: ḥayatan ṭayyibah bukan soal banyaknya isi lemari, tetapi lapangnya isi dada, seperti Ibnu Katsir menyebutnya qana‘ah—rasa cukup yang menenangkan. Al-Qurṭubi menekankannya sebagai ketenteraman batin. Ath-Thabari melihatnya sebagai hidup yang diridhai karena dijalani dengan ketaatan. Ar-Razi bahkan menyentuh wilayah psikologis: bebas dari kegelisahan yang melelahkan jiwa.
Dari penjelasan para mufassir diatas jelas bahwa orang beriman hidup di dunia yang sama, tetapi dengan rasa hidup yang berbeda.
Ibarat dua orang berjalan di jalan yang sama saat hujan turun. Yang satu mengumpat, marah, dan menyalahkan cuaca. Yang lain meneduh sebentar, menikmati rintik, lalu melanjutkan perjalanan. Hujannya sama. Jalannya sama. Yang berbeda hanyalah cara memandang hidup. Di sinilah iman bekerja. Ia bukan sekadar keyakinan di kepala, tetapi kacamata batin yang mengubah rasa hidup.
Iman membuat seseorang tidak silau oleh yang berlebihan, dan tidak hancur oleh yang kekurangan.
Dalam dunia hari ini, kita sering tertipu oleh definisi “baik”. Baik diukur oleh viralitas, pencapaian, dan pengakuan. Padahal, semakin banyak yang dicapai, semakin banyak pula yang ditakuti kehilangan.
Ironisnya, banyak yang “naik kelas” secara sosial, tetapi turun kualitas ketenangan. Al-Qur’an justru menawarkan hidup yang tidak ribut. Hidup yang stabil di dalam, meski goyah di luar. Hidup yang tahu kapan mengejar, dan kapan berhenti. Hidup yang tidak menggantungkan bahagia pada pujian manusia.
Ḥayatan ṭayyibah bukan hidup tanpa lelah,
tetapi hidup yang tahu untuk apa lelah itu dijalani. Bukan hidup tanpa luka, tetapi hidup yang tidak membiarkan luka menguasai arah.
Maka jika hari ini hidup terasa berat, jangan buru-buru menyalahkan takdir. Bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan keadaan, melainkan hubungan kita dengan Tuhan dan makna hidup itu sendiri.
Karena janji Allah jelas “siapa yang beriman dan beramal saleh, tidak dijanjikan hidup mewah, tetapi dijanjikan hidup yang baik.
Dan sering kali, hidup yang baik itu… terlihat sederhana, namun terasa utuh”. (Red)