Dari Tradisi ke Inovasi, “Padusi Tapa” Angkat Sereh Wangi Aceh Selatan ke Pasar Lebih Luas

Akurat Mengabarkan - 9 April 2026
Dari Tradisi ke Inovasi, “Padusi Tapa” Angkat Sereh Wangi Aceh Selatan ke Pasar Lebih Luas
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

KBBAcehnews.com | Aceh Selatan – Di tengah melimpahnya potensi alam yang kerap belum tergarap maksimal, sebuah usaha kecil berbasis komunitas justru tampil membawa perubahan. Berangkat dari tradisi sederhana, UMKM “Padusi Tapa” kini menjelma menjadi motor inovasi produk sereh wangi di Kabupaten Aceh Selatan.

Sereh wangi selama ini dikenal sebagai salah satu komoditas unggulan daerah. Berbeda dengan sereh dapur, tanaman ini memiliki bonggol lebih besar, berwarna kemerahan, serta aroma yang jauh lebih kuat, menjadikannya sangat potensial untuk diolah menjadi minyak atsiri bernilai ekonomi tinggi.

Melihat peluang tersebut, Ny. Sinar Hayani, anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXIX Dim 0107 Koorcab Rem 012 PD Iskandar Muda, sejak tahun 2020 mulai mengembangkan dan memasarkan minyak sereh wangi agar tidak hanya dikenal sebagai produk tradisional, tetapi juga memiliki daya saing di pasar modern.

Langkah ini bukan sekadar usaha bisnis, tetapi juga upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal yang sebelumnya hanya dimanfaatkan secara terbatas sebagai minyak urut.

Menariknya, proses produksi masih mempertahankan metode tradisional. Sekitar 7 hingga 8 kilogram sereh direbus selama kurang lebih 12 jam hingga menghasilkan minyak, kemudian didiamkan semalaman untuk memisahkan endapan dan kotoran. Proses panjang ini justru menjadi nilai autentik yang menjaga kualitas produk tetap alami.

Seiring perkembangan usaha, “Padusi Tapa” tidak berhenti pada satu produk. Berbagai inovasi terus dilakukan dengan menghadirkan turunan produk seperti lilin aromaterapi, sabun aromaterapi, cairan pembersih lantai, hingga sabun cuci piring berbahan dasar sereh wangi.

Minyak sereh wangi tetap menjadi produk unggulan yang paling diminati berbagai kalangan. Sementara itu, produk lilin dan sabun aromaterapi lebih banyak menarik minat generasi muda karena memberikan efek relaksasi dan kenyamanan dalam penggunaan sehari-hari.

Produk pembersih lantai berbasis sereh juga mendapat respons positif karena selain efektif membersihkan, juga membantu mengusir nyamuk secara alami. Sedangkan sabun cuci piring sereh dikenal ampuh mengangkat lemak, lembut di tangan, dan meninggalkan aroma segar.

Sebagai bentuk adaptasi terhadap kebutuhan pasar, “Padusi Tapa” bahkan meluncurkan inovasi terbaru berupa roll-on sereh wangi, hasil pengembangan dari masukan para pelanggan setia.

Dalam hal pemasaran, produk ini masih didominasi oleh jaringan internal Persit serta mitra Kodim 0107/Aceh Selatan, termasuk BSI Cabang Tapaktuan dan instansi pemerintah daerah. Namun, promosi melalui media sosial mulai dilakukan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Dari sisi legalitas, UMKM ini telah mengantongi izin P-IRT sejak tahun 2023. Meski demikian, pengelola masih berupaya menembus sertifikasi BPOM guna meningkatkan kepercayaan konsumen, kendati terkendala keterbatasan fasilitas produksi.

Lebih dari sekadar usaha, “Padusi Tapa” juga menjadi wadah pemberdayaan masyarakat. Melalui pembentukan kelompok usaha, warga sekitar turut dilibatkan dalam proses produksi hingga distribusi, sehingga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan ekonomi keluarga.

Dukungan dari Pembina dan Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Daerah Iskandar Muda, Ny. Tri Joko Hadi Susilo, turut memperkuat keberlanjutan usaha ini.

Perkembangan usaha ini pun menunjukkan tren positif. Dalam tiga bulan terakhir, penjualan mencapai sekitar 120 produk dengan omzet berkisar Rp4 juta hingga Rp5 juta.

Pada ajang “Persit Bisa” tahun ini, UMKM “Padusi Tapa” tampil lebih percaya diri dengan penguatan kemasan dan identitas merek. Nama “Padusi Tapa” sendiri diambil dari legenda masyarakat Aceh Selatan tentang Tuan Tapa yang menyelamatkan seorang putri, menjadi simbol kekuatan, ketangguhan, dan peran perempuan dalam berkarya.

Keikutsertaan dalam event tersebut menjadi bukti bahwa inovasi berbasis potensi lokal mampu berkembang seiring dengan semangat pemberdayaan perempuan. “Padusi Tapa” kini tidak hanya membawa aroma sereh wangi, tetapi juga harapan baru bagi ekonomi masyarakat Aceh Selatan untuk menembus pasar yang lebih luas, bahkan hingga tingkat nasional. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!