Oleh : Gusmawi Mustafa
KBBAcehnews.com | Tapaktuan – Di rumah sakit, ada banyak hal yang membuat keluarga pasien cemas: rasa sakit yang tak tertahankan, tindakan medis yang harus segera dilakukan, antrean pemeriksaan, hingga kecemasan menunggu kabar dari dokter.
Namun hari ini, ada satu kenyataan yang lebih menyayat: bagi banyak keluarga pasien, pertarungan bukan hanya melawan penyakit, tetapi juga melawan keadaan untuk mencari darah.
Darah bukan barang dagangan.
Darah adalah kebutuhan hidup.
Darah adalah penyambung nyawa.
Tetapi ironisnya, pada situasi tertentu, darah seakan menjadi “barang langka” yang membuat keluarga pasien berada dalam posisi terdesak, terhimpit, dan dipaksa oleh keadaan.
Tidak ada pilihan lain.
Mereka “diwajibkan” mencari pendonor sendiri.
Mereka “didorong” mengumpulkan orang.
Mereka “dipaksa” berkeliling mencari bantuan.
Dan pada akhirnya, karena minimnya kesadaran donor sukarela, muncul satu jalan yang pahit:
iming-iming uang.
Bukan karena keluarga pasien ingin memperjualbelikan darah.
Tetapi karena keadaan menutup semua pintu, sehingga mereka harus membuka pintu yang paling berat: membayar orang untuk mendonorkan darah.
Inilah potret buram yang harus kita akui bersama.
Kondisi ini paling keras menghantam mereka yang miskin.
Mereka yang tinggal jauh dari rumah sakit.
Mereka yang datang dari luar kabupaten.
Mereka yang bahkan biaya transportasi dan makan saja sudah terseok-seok.
Sementara kita tahu, biaya pengobatan kini banyak yang telah ditanggung BPJS Kesehatan.
Namun pertanyaannya:
bagaimana jika keluarga pasien tetap harus mengeluarkan uang untuk darah?
Jika satu kantong darah harus “dicari” dengan uang, maka pengobatan yang katanya sudah dijamin, pada akhirnya tetap saja menjadi beban.
Keluarga pasien yang seharusnya fokus mendampingi, malah harus menjadi “pencari darah”.
Yang seharusnya menenangkan pasien, malah sibuk menenangkan dompet.
Yang seharusnya mengurus kebutuhan dasar dan konsumsi harian, malah dihantui pertanyaan:
“Uang dari mana lagi untuk dapat darah?”
Pada saat sakit, pasien tidak hanya membutuhkan obat dan tindakan medis.
Pasien juga butuh ketenangan, butuh dukungan, butuh pendampingan yang utuh dari keluarga.
Karena keluarga adalah sumber kekuatan paling besar bagi orang sakit.
Namun realitasnya, keluarga pasien dipaksa menjadi banyak hal sekaligus:
menjadi pencari donor,
menjadi koordinator pendonor,
menjadi penghubung ke sana ke mari,
bahkan menjadi “pembayar” agar darah tersedia.
Padahal semestinya, keluarga pasien cukup berkonsentrasi pada:
pendampingan pasien,
pemenuhan kebutuhan dasar,
konsumsi harian,
karena biaya pengobatan sudah ada skema jaminan kesehatan.
Tetapi ketika darah menjadi urusan keluarga pasien, maka sistem sedang menyatakan:
pasien boleh dijamin, tapi nyawanya belum tentu diselamatkan tepat waktu.
Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, maka kita patut bertanya dengan jujur:
Dan lebih jauh lagi:
Jika keluarga pasien harus mengeluarkan uang untuk kebutuhan darah, lalu kita-kita yang diberi amanah oleh Undang-undang, oleh jabatan, oleh kewenangan…
apa peran dan tanggung jawab yang bisa kita tunaikan?
Apakah cukup hanya:
Sementara di lorong rumah sakit, ada keluarga pasien yang menangis diam-diam karena tidak sanggup mencari darah.
Jabatan bukan sekadar status.
Jabatan adalah tanggung jawab.
Jabatan adalah pelayanan.
Jabatan adalah jawaban bagi persoalan rakyat.
Mari kita sadari, darah tidak bisa dibeli, tapi bisa diberi.
Donor darah bukan sekadar kegiatan sosial.
Donor darah adalah gerakan kemanusiaan.
Donor darah adalah investasi kehidupan.
Satu kantong darah bisa menyelamatkan nyawa.
Satu pendonor bisa menjadi harapan.
Satu kepedulian bisa mengubah takdir sebuah keluarga.
Kita tidak boleh membiarkan keluarga pasien berjuang sendirian.
Kita tidak boleh membiarkan orang miskin kalah hanya karena darah tidak tersedia.
Sudah saatnya kita membangun budaya donor darah sukarela:
terjadwal, terdata, terorganisir, dan menjadi gerakan bersama.
Agar tidak ada lagi keluarga pasien yang terpaksa berkata:
“Kami tidak punya pilihan lain.”
Karena dalam urusan nyawa, kita semua harus menjadi pilihan.
Pilihan untuk peduli.
Pilihan untuk hadir.
Pilihan untuk menjadi penolong.
Kamis, 29 Januari 2026