BELAJARLAH TENANG

Akurat Mengabarkan - 2 Januari 2026
BELAJARLAH TENANG
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By. Dr. Khairuddin, S. Ag. MA

KBBAcehnews.com | Banda Aceh – Kadang hidup itu seperti tetangga cerewet yang tak pernah bosan datang ke rumah. Ia mengetuk pintu, membawa kabar tak terduga: hari ini mungkin rezeki, besok kecewa, lusa kabar baik lagi, lalu setelah itu sedikit luka. Kita tidak pernah benar-benar siap, tapi hidup tetap saja datang tanpa izin.

Dan anehnya, kita sering berharap hidup ini sopan—padahal sejak dulu ia memang tidak pernah ramah sepenuhnya.

Cobalah bayangkan diri kita sebagai cangkir kecil yang diisi air panas. Jika cangkirnya rapuh, ia retak. Tapi jika cangkirnya kuat, air panas itu justru akan membuat aroma teh semakin harum. Masalahnya, banyak dari kita sibuk mengeluh soal panasnya air, padahal yang perlu diperbaiki mungkin adalah kekuatan cangkirnya.

Melatih hati—cara memandang hidup dengan kepala dingin dan dada lapang yang sering disebut teori Stoicism berbisik halus:

“Belajarlah membedakan mana yang bisa kau kendalikan, dan mana yang tidak.”

Lalu Islam datang melengkapinya:

“Dan serahkanlah sisanya kepada Allah, karena Dia lebih tahu cara menata hidupmu.”

Betapa indahnya jika dua bisikan itu kita simpan di dada.

Sering kali kita marah pada hujan, padahal hujan hanya menjalankan tugasnya. Kita kecewa pada takdir, padahal takdir tak pernah menandatangani kontrak bahwa hidupmu harus selalu mulus. Dunia ini memang tidak didesain untuk memenuhi semua keinginanmu. Dunia ini didesain agar jiwamu tumbuh.

Ada saat-saat ketika kita merasa menjadi korban keadaan: diguncang kabar buruk, dihantam rasa kehilangan, atau diterpa penilaian orang yang tidak tahu apa-apa tentang luka kita. Di situlah hati diuji: apakah ia akan mengeras seperti batu, atau melembut seperti tanah yang subur.

Bukan ketenangan buatan yang dipasang di wajah, tapi ketenangan yang tumbuh perlahan di dalam dada. Yang membuat kita berkata:

“Aku akan melakukan yang terbaik.

Sisanya, biarlah Allah yang mengurusnya.”

Kedengarannya sederhana, tapi justru itulah seni hidup.

Ada orang yang setiap hari sibuk mengejar kendali atas segalanya. Ia ingin orang lain selalu setuju, keadaan selalu sesuai rencana, dan takdir selalu ramah. Padahal itu mirip orang yang berusaha menutup laut dengan pagar—capek sendiri, hasilnya tetap bocor.

Lebih bijak bila kita belajar menguatkan diri, bukan mengatur ombak.

Kalau hati kita kokoh, dunia boleh saja berisik—kita tetap waras. Kalau jiwa kita terlatih, cobaan boleh mampir—kita tetap berdiri. Jika hati ini dekat kepada Allah, maka dunia hanya menjadi tamu, bukan tuan.

Kadang, Allah membuat kita kehilangan sesuatu… bukan untuk menyakiti, tetapi untuk membersihkan tempat di hati agar sesuatu yang lebih baik bisa masuk.

Kadang, kita dibuat jatuh…agar tahu rasanya rendah hati. Kadang, doa kita belum dijawab…

bukan karena Allah lupa, tapi karena Dia sedang mengajari kita arti percaya.

Maka janganlah terlalu keras pada hidup,

tapi lebih lembutlah pada hatimu sendiri.

Beri ia ruang untuk belajar, untuk salah, untuk bangkit lagi. Beri ia kesempatan untuk memahami bahwa ketenangan bukan datang dari hasil yang selalu sesuai, tetapi dari keyakinan bahwa apa pun hasilnya—Allah tidak pernah keliru.

Dan kalau suatu hari engkau merasa letih, duduklah sebentar dan katakan dalam hati:

“Aku mungkin tak bisa mengatur segalanya,

tetapi aku bisa mengatur bagaimana caraku menyikapinya.”

Jika kalimat itu saja sudah membuat dadamu sedikit lebih lapang, maka ketahuilah—hati itu sedang bertumbuh. Dan hati yang bertumbuh… adalah tanda bahwa hidup sedang berjalan ke arah yang benar.

Tenanglah. Hidup memang keras. Tapi Allah selalu lebih lembut dari segalanya. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!