KBBAceh.News | Banda Aceh – Di tengah duka Aceh akibat banjir, sebuah kesaksian personal beredar dan menyentuh emosi banyak orang. Bukan berupa pidato resmi atau pernyataan politik, melainkan refleksi jujur seorang warga yang menyaksikan langsung bagaimana seorang pemimpin hadir di saat krisis.
“Hari ini aku menemukan jawabannya,” tulisnya. Sebuah kalimat yang kemudian berkembang menjadi pengakuan mendalam tentang kepemimpinan Mu’alem, Gubernur Aceh, yang dinilai benar-benar hadir untuk rakyatnya.
Dalam kesaksiannya, penulis membayangkan suatu hari kelak ketika anak-anaknya bertanya tentang sosok pemimpin yang baik dan nyata membela rakyat. Dengan keyakinan penuh, ia menyebut satu nama: Mu’alem.
Ia menegaskan bahwa setelah bertahun-tahun bertemu banyak orang dan melihat beragam wajah kekuasaan, seseorang akhirnya belajar membedakan mana ketulusan dan mana sekadar peran. Dan di tengah bencana banjir yang melanda Aceh, ia mengaku menyaksikan ketulusan itu secara langsung.
Refleksi ini juga menyinggung perjalanan panjang Aceh dan figur-figur yang lahir dari sejarah konflik. Mereka yang dulu berdiri “di seberang”, yang kerap dicap keras bahkan ditakuti, justru dinilai memiliki pemahaman mendalam tentang penderitaan rakyat.
“Sejarah tidak selalu hitam-putih,” tulisnya. Kepemimpinan yang lahir dari luka panjang disebut sering kali lebih paham arti damai, lebih mengerti bagaimana bertindak tanpa intrik, dan tanpa menghitung keuntungan pribadi.
Kesaksian tersebut menutup dengan penekanan pada nilai-nilai yang dianggap mulai langka: kejujuran, keberanian, dan kesadaran seorang pemimpin tentang asal-usulnya. Tentang tidak lupa dari mana ia berasal, dan untuk siapa kekuasaan itu seharusnya dijalankan.
Di tengah perdebatan dan kritik yang kerap mewarnai ruang publik, narasi ini menjadi potret lain dari kepemimpinan—bukan dari podium, melainkan dari pengalaman langsung di lapangan saat rakyat sedang paling membutuhkan.