KBBAceh.News | Jakarta – Palestina secara resmi sudah memproklamasikan kemerdekaannya pada 15 November 1988 melalui deklarasi yang dibacakan Yasser Arafat di Aljir, Aljazair.
Palestina sudah mendeklarasikan kemerdekaan sejak 1988, tetapi kemerdekaan itu belum bisa dijalankan secara penuh karena masih berada dalam cengkeraman pendudukan Israel.
Meskipun sudah diakui oleh mayoritas negara anggota PBB (147 dari 193 negara hingga saat ini), Palestina belum sepenuhnya Merdeka.
Itu karena Israel masih melakukan pendudukan di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Gaza.
Namun dalam perkembangannya,mulai 2025 sejumlah negara yag sebelumnya pro Israel seperti Inggris Perancis Kanada Australia. Kini sikap negara Eropa tersebut sudah melunak dan mengakui keberadaan Pelastina.
Dengan potensi pengakuan baru dari negara-negara seperti Prancis, Belgia, Luksemburg, Malta, Portugal, Andorra, dan San Marino, maka jumlah negara yang mengakui Palestina diperkirakan naik menjadi 157 negara.
Sidang Majelis Umum PBB ke-80 di New York menjadi momentum penting karena disertai konferensi internasional untuk mendorong solusi dua negara.
Namun meningkatnya negara negara yang pro Palestina, Israel melakukan langkah keras dengan ancamaman pencaplokan Tepi Barat.
Pemerintahan Benjamin Netanyahu menegaskan bisa mempercepat proses aneksasi Tepi Barat sebagai bentuk balasan terhadap pengakuan internasional terhadap Palestina.
Seperti diketahui peningkatan kekerasan di wilayah pendudukan Setelah peristiwa 7 Oktober 2023, Israel semakin memperluas operasi militernya di Gaza dan Tepi Barat.
Penolakan solusi dua negara, Israel menilai pengakuan Palestina oleh negara-negara Barat justru memperumit jalan menuju kesepakatan damai.
Sikap Amerika Serikat
Pemerintah AS di bawah Presiden dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio tidak secara terbuka menentang rencana Israel untuk mencaplok Tepi Barat dikutip dari Antara.
Rubio bahkan memperingatkan negara-negara Eropa bahwa pengakuan terhadap Palestina bisa memicu respons keras dari Israel.
Menurutnya, langkah pengakuan ini justru akan menyulitkan tercapainya kesepakatan damai di Gaza.
Dengan semakin banyak yang mengakui Palestina, Israel menanggapi dengan ancaman pencaplokan dan penolakan, dan AS tidak menunjukkan upaya serius untuk menahan langkah keras Israel. (Red)