ANTARA MATA DAN AURAT

Akurat Mengabarkan - 12 Januari 2026
ANTARA MATA DAN AURAT
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By. Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA

KBBAcehnews.com | Banda Aceh – Tulisan ini ditulis bermula dari dua orang yang sedang adu argumen di sebuah warung kopi di Banda Aceh.

Asap rokok tipis bercampur aroma kopi hitam, sementara sendok beradu dengan gelas. Topiknya bukan politik, bukan pula harga kopi yang naik—melainkan soal klasik yang tak pernah benar-benar usai: perempuan harus menutup aurat. Satu pihak bersikukuh,

“Kalau perempuan berpakaian sopan, suasana juga aman.” Pihak lain membalas cepat,

“Justru laki-laki yang harus menjaga mata. Kenapa perempuan terus yang disalahkan?”

Dari percakapan yang awalnya santai itu, suara mulai meninggi, alis mengerut, dan logika ikut dipertaruhkan. Bukan karena keduanya ingin menang, tapi karena masing-masing merasa sedang membela kebenaran. Dari situlah tulisan ini lahir—bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menimbang, bukan untuk memihak, melainkan untuk menempatkan tanggung jawab pada tempatnya.

Berpakaian menutup aurat sejatinya bukan sekadar soal kain yang panjang atau pendek, tetapi soal kenyamanan sosial. Nyaman bagi diri sendiri, dan aman bagi lingkungan. Di titik inilah perdebatan sering mengeras: perempuan diminta menutup aurat, sementara laki-laki diperintah menjaga pandangan. Lalu muncul pertanyaan yang terdengar sederhana namun menggigit:

“Kalau ada yang dipertontonkan, bagaimana mungkin mata dijaga?”

Pertanyaan itu tidak sepenuhnya keliru. Namun jawabannya tidak bisa diselesaikan dengan menunjuk satu pihak sebagai terdakwa tunggal.

Manusia bukan makhluk netral secara visual. Mata adalah pintu tercepat menuju pikiran, dan pikiran adalah jalan tol menuju nafsu. Ketika seorang perempuan berpakaian terlalu terbuka, ia mungkin tidak berniat menimbulkan kegaduhan moral. Namun ruang publik tidak bekerja berdasarkan niat, melainkan berdasarkan dampak. Pilihan personal, ketika dibawa ke ruang bersama, otomatis berubah menjadi urusan sosial.

Namun menumpahkan seluruh beban moral kepada perempuan juga tidak adil. Laki-laki bukan makhluk tanpa rem. Ia dibekali akal, iman, dan kendali diri. Menjaga pandangan bukan berarti hidup di dunia tanpa gambar, tetapi melatih diri agar tidak menjadikan setiap yang terlihat sebagai bahan pelampiasan. Ibarat papan reklame di pinggir jalan: terlihat, iya. Harus ditabrak? Tidak juga.

Di sinilah keseimbangan sering hilang.

Perempuan menutup aurat bukan karena laki-laki “tidak mampu menahan diri”, melainkan karena ia memahami nilai dirinya dan sadar akan efek sosial dari pilihan pribadinya. Sementara laki-laki menjaga mata bukan karena perempuan “harus selalu benar”, tetapi karena ia tahu kehormatannya tidak boleh dikuasai oleh rangsangan sesaat.

Masalah muncul ketika dua-duanya ingin menang sendiri.Perempuan berkata, “Ini tubuh saya.” Laki-laki menjawab, “Kalau begitu, mata saya juga hak saya.” Akhirnya yang menjadi korban justru orang-orang yang tidak terlibat dalam debat itu: perempuan lain, anak-anak, bahkan tatanan sosial yang harus menanggung akibat dari nafsu yang dilepas dan akal yang dilipat.

Menjaga pandangan bukan berarti jalan sambil merem. Dan menutup aurat bukan berarti harus berpakaian seperti karung beras.

Yang dibutuhkan bukan ekstrem, tetapi kesadaran dan tanggung jawab bersama.

Sebab moral publik tidak dibangun dengan saling menuding, melainkan dengan saling menahan diri. Dunia ini terlalu sempit untuk nafsu yang dilepas, dan terlalu berharga untuk akal yang sengaja dimatikan. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!