ADAB YANG HILANG, ARAH YANG KACAU

Akurat Mengabarkan - 4 April 2026
ADAB YANG HILANG, ARAH YANG KACAU
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

Oleh Dr. Khairuddin, S. Ag. MA

KBBAcehnews.com | Banda Aceh – Dalam perjalanan kehidupan sehari-hari, hampir setiap aspek dan tahapan hidup, tampak adanya kekacauan dalam cara kita bertindak dan menyikapi persoalan. Ada sesuatu yang menyimpang dari jalur yang seharusnya. Ini bukan semata-mata karena kurangnya kecerdasan atau pendidikan formal, melainkan karena hilangnya adab yang sejati.

Kehilangan adab membawa dampak yang jauh lebih serius daripada yang kita bayangkan. Ilmu pengetahuan kehilangan arah dan tujuan, kekuasaan dijalankan tanpa nurani, dan kehidupan berjalan seperti kendaraan tanpa rem—melaju cepat, tetapi menuju kehancuran.

Banyak yang mengira bahwa masalah bangsa ini terletak pada kurangnya kecerdasan. Maka sekolah diperbanyak, gelar dikejar, dan seminar digelar di mana-mana. Namun ironisnya, semakin tinggi gelar yang diraih, sering kali semakin menipis rasa malu dan etika. Pendidikan berhasil menajamkan akal, tetapi gagal menumbuhkan kebijaksanaan hati.

Adab adalah fondasi kehidupan. Ia mungkin tidak tampak, tetapi menentukan kokoh atau runtuhnya sebuah bangunan. Hari ini, banyak orang sibuk memperindah permukaan—jabatan, status, dan pencitraan—sementara fondasi adab telah retak. Akibatnya, sedikit guncangan saja mampu meruntuhkan segalanya.

Dalam kepemimpinan, krisis adab terlihat semakin jelas. Banyak yang menuntut dihormati, tetapi tidak mampu menghormati. Banyak yang ingin didengar, tetapi enggan mendengar. Kepemimpinan kehilangan keteladanan, dan berubah menjadi sekadar simbol kekuasaan tanpa makna.Pemimpin tanpa adab ibarat suara keras tanpa isi. Ia menciptakan kebisingan, bukan solusi. Di tingkat bawah, perilaku ini ditiru; di tingkat atas, realitas diabaikan. Akhirnya, yang terjadi adalah saling menyalahkan, bukan perbaikan.

Kekacauan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, bermula dari hal-hal kecil: ketidakjujuran, pengkhianatan amanah, ketidakdisiplinan, dan hilangnya rasa hormat. Lama-kelamaan, yang salah dianggap biasa, dan yang benar dianggap menyimpang.

Lebih memprihatinkan lagi, adab mulai dipandang remeh. Kesantunan dianggap kelemahan, kejujuran dianggap kebodohan, dan etika dianggap tidak relevan. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!