By Dr. Khairuddin, S. Ag. MA
KBBAcehnews.com | Banda Aceh – Sebuah ungkapan Arab yang sering kita dengar dannmengakar dalam kehidupan masyarakat “إذا تام العقل قلّ الكلام” berarti:
“Apabila akal telah sempurna, maka perkataan menjadi sedikit.”
Ungkapan ini bukan sekadar ajakan untuk diam, tetapi sebuah isyarat bahwa kedewasaan berpikir melahirkan kehati-hatian berbicara. Orang yang akalnya matang tidak merasa perlu memenuhi ruang dengan kata-kata. Ia berbicara karena perlu, bukan karena ingin terlihat.
Akal yang belum matang cenderung seperti air hujan yang jatuh di atas kaleng kosong—berisik, memantul, dan menarik perhatian. Tetapi akal yang matang seperti air yang masuk ke dalam tanah subur—tenang, meresap, lalu menumbuhkan kehidupan. Ia tidak ribut, tetapi dampaknya dalam.
Orang yang banyak bicara sering sedang mencari pengakuan. Ia ingin terlihat tahu, ingin dianggap penting, atau takut dianggap tidak memahami sesuatu. Sementara orang yang sempurna akalnya menyadari bahwa kata-kata memiliki beban, dan setiap kalimat yang keluar adalah tanggung jawab. Maka ia menimbang sebelum berbicara, sebagaimana pedagang emas menimbang sebelum menyerahkan barangnya.
Coba kita bayangkan sebatang Pohon yang masih kecil banyak bergerak tertiup angin, tetapi pohon besar berdiri kokoh dan tenang.
Demikian pula manusia. Ketika ilmu dan akalnya masih sedikit, ia mudah bereaksi, mudah berkomentar, dan cepat menyela. Namun ketika akalnya matang, ia lebih banyak mendengar, memahami, lalu berbicara seperlunya.
Diamnya orang berakal bukan karena tidak mampu bicara, tetapi karena ia memahami bahwa tidak semua yang diketahui harus diucapkan, tidak semua yang benar harus diperdebatkan, dan tidak semua yang didengar harus ditanggapi. Ia seperti laut dalam—permukaannya tenang, tetapi kedalamannya menyimpan kekuatan. Sebaliknya, air dangkal mudah bergelombang dan berisik, meski isinya sedikit.
Maka ungkapan ini mengajarkan bahwa kematangan akal melahirkan ketenangan lidah. Bukan berarti diam selamanya, tetapi berbicara dengan makna, dengan hikmah, dan dengan ukuran. Karena pada akhirnya,
orang bijak dikenal dari sedikit kata yang tepat, sedangkan orang kurang matang dikenal dari banyak kata yang tidak perlu. (Red)