By. Dr. Khairuddin, S. Ag. MA
KBBAcehnews.com | Tapaktuan – Mengawali tulisan ini perlu rasanya menampilkan sebuah ungkapan hikmah dari para ulama:
لو كانت الذنوب تمنع العبد من الرجوع إلى الله لما دعا الله العصاة إلى التوبة
“Seandainya dosa menghalangi seorang hamba untuk kembali kepada Allah, niscaya Allah tidak akan memanggil para pendosa untuk bertaubat.”
Ungkapan singkat ini menyimpan makna yang sangat dalam. Ia mengajarkan bahwa dosa bukanlah pintu yang menutup jalan menuju Allah, tetapi justru sering menjadi sebab seseorang kembali dengan hati yang lebih tunduk dan lebih sadar akan kelemahannya.
Manusia diciptakan bukan sebagai makhluk yang selalu benar. Ia sering tergelincir, terkadang lalai, bahkan jatuh dalam kesalahan yang berulang. Namun dalam pandangan Islam, kesalahan bukan akhir dari perjalanan, melainkan titik untuk kembali memperbaiki diri.
Allah sendiri menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini tidak ditujukan kepada orang yang tidak berdosa, tetapi justru kepada mereka yang melampaui batas. Artinya, panggilan Allah selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali.
Para ulama sering mengatakan bahwa dosa yang disertai penyesalan bisa lebih mendekatkan seseorang kepada Allah daripada ketaatan yang disertai kesombongan.
Seseorang yang pernah jatuh dalam dosa biasanya akan memiliki hati yang lebih lembut, lebih mudah menangis dalam doa, dan lebih memahami betapa luasnya rahmat Allah.
Karena itu, yang paling berbahaya bukanlah dosa, tetapi putus asa dari rahmat Allah. Ketika seseorang merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni, saat itulah sebenarnya ia sedang dijauhkan oleh bisikan syaitan dari pintu taubat. Padahal, selama nafas masih berhembus, pintu itu tidak pernah tertutup.
Kisah Orang Terdahulu: Pembunuh Seratus Orang
Para ulama sering menceritakan sebuah kisah yang diriwayatkan dalam hadits sahih tentang seorang lelaki dari umat terdahulu yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang.
Suatu hari hatinya gelisah. Ia merasa hidupnya penuh dosa dan ingin bertaubat. Maka ia mencari orang yang dianggap paling alim di negerinya. Ia bertanya:
“Apakah masih ada taubat bagiku setelah aku membunuh sembilan puluh sembilan orang?”
Orang yang ditanya itu menjawab, “Tidak ada.”
Mendengar jawaban itu, lelaki tersebut marah dan membunuhnya, sehingga genaplah seratus orang yang ia bunuh.
Namun kegelisahan di hatinya tidak hilang. Ia kembali mencari seorang alim yang lain. Ketika bertemu dengannya, ia bertanya dengan penuh penyesalan: “Apakah masih ada taubat bagiku setelah aku membunuh seratus orang?”
Orang alim itu menjawab dengan penuh hikmah:
“Siapakah yang dapat menghalangimu dari taubat? Pergilah ke negeri yang penduduknya menyembah Allah, karena di sana ada orang-orang yang saleh.”
Lelaki itu pun berangkat menuju negeri tersebut. Namun di tengah perjalanan ia meninggal dunia. Lalu para malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih tentang nasibnya.
Allah kemudian memerintahkan agar diukur jarak antara dua negeri: negeri tempat ia hidup dahulu dan negeri tempat ia ingin menuju. Ternyata ia lebih dekat kepada negeri orang-orang saleh, sehingga ia pun dimasukkan ke dalam rahmat Allah.
Kisah ini mengandung pesan yang sangat kuat, bahkan seseorang yang memiliki dosa sebesar gunung sekalipun tidak pernah dihalangi untuk kembali kepada Allah.
Berdasarkan uraian diatas dapat di simpulkan
Bahwa seorang ulama pernah berkata:
“Dosa adalah luka, tetapi taubat adalah obatnya. Dan Allah adalah tempat kembali bagi setiap hamba yang terluka.”
Tidak ada manusia yang sepenuhnya bersih dari kesalahan. Namun yang membedakan manusia yang baik dengan yang buruk bukanlah pada ada atau tidaknya dosa, melainkan apakah ia kembali atau terus menjauh.
Selama hati masih mampu menyesal, selama lisan masih mampu beristighfar, dan selama kaki masih mampu melangkah menuju kebaikan, maka jalan pulang kepada Allah selalu terbuka.
Dan mungkin justru karena dosa itulah seseorang akhirnya menemukan jalan pulang yang selama ini ia lupakan. (Red)