DI BALIK PUJIAN MANUSIA

Akurat Mengabarkan - 14 Maret 2026
DI BALIK PUJIAN MANUSIA
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By. Dr. Khairuddin, S.Ag. MA

KBBAcehnews.com | Banda Aceh – Dalam kehidupan sosial, manusia sering menilai dan dinilai. Kita menilai orang lain dari apa yang tampak di permukaan—dari kata-kata, sikap, atau reputasi yang beredar. Namun sering kali, apa yang tampak tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan. Orang yang kita kira sangat baik, ternyata memiliki sisi yang tidak kita ketahui. Sebaliknya, kita sendiri mungkin dipandang lebih baik daripada kenyataan diri kita yang sebenarnya.

Di sinilah pentingnya kerendahan hati. Penilaian manusia sering kali dibangun di atas asumsi, prasangka, bahkan harapan yang terlalu tinggi. Karena itu, jangan terlalu cepat menaruh harapan besar kepada manusia. Bukan karena mereka pasti mengecewakan, tetapi karena setiap orang sedang berjalan dengan bebannya sendiri. Setiap orang menyimpan luka, kegelisahan, dan pergulatan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Seperti gunung es di tengah lautan, yang tampak di permukaan hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan bentuknya. Begitu pula manusia. Yang terlihat hanyalah perilaku luarnya, sedangkan kedalaman jiwa, luka masa lalu, dan pergulatan batinnya tersembunyi jauh di dalam.

Karena itu, bersikaplah lebih bijak dalam menilai. Jangan terlalu cepat mengagungkan seseorang, dan jangan pula tergesa-gesa menjatuhkan penilaian buruk.

Di sisi lain, pujian manusia juga bukan ukuran yang layak untuk dibanggakan. Pujian sering kali lahir dari ketidaktahuan mereka tentang diri kita yang sebenarnya. Bisa jadi, pujian itu hadir karena Allah sedang menutup aib kita di mata mereka. Seandainya manusia mengetahui seluruh sisi kehidupan kita—kesalahan, kelalaian, dan kelemahan yang kita sembunyikan—mungkin sebagian dari mereka akan memandang kita dengan cara yang berbeda.

Begitu pula sebaliknya. Jika kita mengetahui sepenuhnya sisi tersembunyi dari orang lain, mungkin kita pun akan menjaga jarak dari mereka. Karena itu, jalan terbaik adalah menjaga keseimbangan hati: tidak terbang tinggi ketika dipuji, dan tidak jatuh terlalu dalam ketika dicela.

Para ulama salaf pernah mengingatkan dengan kalimat yang sederhana namun sangat dalam maknanya:

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ لَمْ يَضُرَّهُ مَدْحُ النَّاسِ وَلَا ذَمُّهُمْ

“Barang siapa mengenal dirinya sendiri, maka pujian manusia tidak akan membuatnya terlena, dan celaan mereka tidak akan menjatuhkannya.”

Orang yang benar-benar mengenal dirinya tahu bahwa dirinya masih penuh kekurangan. Ia menyadari bahwa perjalanan memperbaiki diri tidak pernah selesai. Karena itu, ia tidak menjadikan pujian sebagai sumber kebanggaan, dan tidak menjadikan celaan sebagai alasan untuk putus asa.

Kita semua, pada hakikatnya, sedang berada dalam proses yang sama: belajar, bertumbuh, dan memperbaiki diri. Tidak ada manusia yang benar-benar selesai dengan dirinya sendiri.

Maka jangan terlalu cepat menilai orang lain, dan jangan pula merasa diri lebih baik dari siapa pun.

Teruslah memperbaiki diri, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Karena yang paling penting bukanlah bagaimana manusia menilai kita, tetapi bagaimana Allah melihat hati dan niat kita.

Pada akhirnya, bukan pujian manusia yang akan menentukan nilai hidup kita. Bukan pula celaan mereka yang akan menjatuhkan kita. Yang menentukan segalanya hanyalah satu: ridha Allah. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!