Dari Lapar ke Integritas: Ketika Puasa Diuji oleh Harta

Akurat Mengabarkan - 8 Maret 2026
Dari Lapar ke Integritas: Ketika Puasa Diuji oleh Harta
Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By Dr. Khairuddin, S. Ag. MA

KBBAcehnews.com | Banda Aceh – Ramadhan selalu datang dengan suasana yang khas. Siang hari terasa lebih sunyi, masjid lebih hidup di malam hari, dan hati terasa lebih lembut dari biasanya. Di awal bulan itu kita mendengar kembali firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183: “Diwajibkan atas kalian berpuasa… agar kalian bertaqwa.”

Seolah-olah Allah sedang menetapkan satu target besar yaitu taqwa.

Sebulan penuh kita dilatih. Lapar ditahan. Haus dikendalikan. Emosi dijaga. Bahkan keinginan yang halal pun harus ditunda demi kepatuhan. Di situlah pelajaran besar itu dimulai: bahwa manusia ternyata mampu menahan diri.

Namun Ramadhan tidak berhenti pada rasa lapar. Ia sedang membangun sesuatu yang lebih dalam—kesadaran batin bahwa Allah selalu melihat, Dan tepat setelah berbicara tentang puasa, Al-Qur’an menghadirkan peringatan yang sangat sosial sifatnya dalam QS. Al-Baqarah ayat 188:

“Janganlah kalian memakan harta di antara kalian secara batil, dan janganlah kalian mengulurkannya kepada para hakim (yang memegang kekuasaan) agar kalian dapat memakan sebagian harta orang lain dengan dosa, padahal kalian mengetahui.”

Ayat ini seakan-akan setelah Allah melatih kita menahan diri dari makanan, Dia bertanya:

Sekarang, mampukah kamu menahan diri dari yang bukan hakmu?

Memang, Puasa mengajarkan kita menahan lapar di ruang privat. Ayat 188 menguji kita di ruang publik. Di siang Ramadhan, seseorang bisa saja menahan diri dari seteguk air meski tak ada manusia yang melihat. Itu latihan kejujuran. Tetapi setelah Ramadhan, godaan yang datang bukan lagi segelas air. Ia bisa berupa peluang jabatan, kesempatan proyek, celah administrasi, atau kemudahan yang bisa “diatur”. Di situlah makna taqwa diuji.

Al-Qur’an menggunakan kata yang sangat halus namun tajam: tudlū yang diartikan mengulurkan, seperti menurunkan timba ke dalam sumur. Seseorang memasukkan sesuatu dengan harapan ketika ditarik kembali, hasilnya lebih besar. Itulah gambaran suap, manipulasi, dan segala bentuk pengaruh yang dibungkus kepentingan. Ramadhan melatih tangan untuk tidak mengambil yang halal sebelum waktunya.

Ayat 188 melatih tangan untuk tidak mengambil yang haram meski ada kesempatan.

Sungguh ironis jika seseorang mampu menahan lapar seharian, tetapi tidak mampu menahan ambisi beberapa saat. Mampu menutup mulut dari makan, tetapi tidak mampu menutup pintu dari kebatilan.

Taqwa bukan hanya ketahanan fisik.

Ia adalah ketahanan moral. Penutup ayat itu sangat menggugah: “Padahal kalian mengetahui.” Artinya, pelanggaran itu sering dilakukan bukan karena tidak tahu, tetapi karena hati mulai bernegosiasi. Dan puasa sesungguhnya hadir untuk menghentikan negosiasi itu. Ia membiasakan hati berkata, “Tidak,” meski ada peluang.

Maka ukuran keberhasilan Ramadhan bukan sekadar banyaknya ibadah ritual yang dilakukan. Ukurannya terlihat setelah bulan itu pergi. Apakah keputusan kita lebih bersih? Apakah transaksi kita lebih jujur? Apakah jabatan kita lebih amanah?

Jika puasa benar-benar melahirkan taqwa, maka hasilnya tampak pada integritas.

Tidak ada “timba” yang diturunkan ke sumur kebatilan. Tidak ada harta yang disentuh dengan cara yang meragukan.

Tidak ada keputusan yang dibeli dengan kompromi nurani.

Ramadhan mendidik kita bahwa Allah melihat bahkan ketika tidak ada manusia yang tahu. Dan ayat 188 mengingatkan bahwa kesadaran itu harus terus hidup dalam urusan harta dan kekuasaan.

Lapar hanya sementara. Tetapi taqwa adalah tujuan akhirnya. Dan ketika taqwa itu benar-benar tumbuh, ia akan menjaga seseorang bukan hanya di siang Ramadhan, tetapi juga di tengah dunia yang penuh peluang untuk tergelincir. Di situlah puasa menemukan maknanya yang paling dalam:

mengubah manusia dari sekadar mampu menahan makan, menjadi mampu menahan diri dari memakan yang bukan haknya. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!