Usai diserang Drone Iran Kilang Minyak Terbesar Saudi Aramco berhenti beroperasi

Akurat Mengabarkan - 3 Maret 2026
Usai diserang Drone Iran Kilang Minyak Terbesar Saudi Aramco berhenti beroperasi
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

KBBAcehnews.com | Jakarta – Saudi Aramco terpaksa menghentikan operasional kilang Ras Tanura untuk sementara waktu setelah adanya serangan drone pada Senin (2/3/2026) waktu setempat.

Mengutip laporan Saudi Press Agency via Bloomberg, puing-puing dari dua pesawat tak berawak milik Iran yang berhasil dicegat memicu kebakaran kecil di lokasi, namun otoritas setempat memastikan api sudah dapat dipadamkan.

Sebagaimana diberitakan NDTV, insiden itu memperparah ketegangan di kawasan. Serangan itu merupakan aksi balasan Teheran atas operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu.

Fasilitas di pesisir Teluk itu bukan sekadar kilang tertua milik Aramco, melainkan salah satu yang paling canggih di Timur Tengah. Berdasarkan data Reuters, kilang ini mampu mengolah hingga 550 ribu barel minyak mentah dan kondensat setiap harinya.

Selain menjadi pusat produksi solar untuk pasar Eropa dan bensin, kompleks tersebut terintegrasi langsung dengan terminal ekspor minyak mentah terbesar di dunia.

Keberadaan tangki penyimpanan raksasa dan dermaga pemuatan di sana menjadikan Ras Tanura sebagai titik nadi pengiriman energi utama menuju Asia, Eropa, hingga Amerika Serikat (AS).

Serangan tersebut menambah daftar panjang ancaman terhadap keamanan energi global. Sebelumnya, kelompok Houthi juga pernah mengincar fasilitas serupa pada 2021.

Situasi saat ini dinilai lebih sensitif karena aktivitas pelayaran di Selat Hormuz baru saja merosot tajam akibat serangan terhadap kapal-kapal tanker pada 1 Maret. Dampaknya langsung terasa pada pasar keuangan.

Reuters mencatat harga kontrak berjangka minyak mentah Brent meroket sekitar 10 persen pada Senin (2/3/2026). Para investor mulai khawatir akan terjadinya gangguan pasokan yang lebih luas jika konflik terus memanas.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat drastis setelah Teheran membalas serangan AS-Israel dengan meluncurkan ratusan rudal serta drone ke berbagai titik strategis.

Dalam wawancaranya bersama The New York Times, Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal operasi militer ini bisa berlangsung selama empat hingga lima minggu ke depan.

Pernyataan tersebut mengindikasikan ketidakstabilan di kawasan penghasil minyak itu kemungkinan besar masih akan berlanjut dalam waktu dekat. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!