Inilah Profil Lengkap Ustaz Adi Hidayat, Sang Penghafal Al-Qur’an hingga Letak Barisnya!

Akurat Mengabarkan - 22 Februari 2026
Inilah Profil Lengkap Ustaz Adi Hidayat, Sang Penghafal Al-Qur’an hingga Letak Barisnya!
Ustaz Adi Hidayat  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

KBBAcehnews.com | Tapaktuan – Di panggung dakwah tanah air, sosok Ustaz Adi Hidayat (UAH) sering kali membuat jemaah berdecak kagum. Bukan hanya karena kedalaman materinya, tetapi karena kemampuannya dalam memvisualisasikan Al-Qur’an dan Kitab Hadis di luar kepala—lengkap dengan posisi ayat, nomor halaman, hingga letak barisnya. Namun, kejeniusan ini bukanlah hasil instan, melainkan buah dari perjalanan panjang seorang putra Banten yang haus akan ilmu.

Anak Ajaib dari Pandeglang
Lahir pada 11 September 1984, Adi Hidayat sudah menonjol sejak kecil. Di sekolah dasar, ia selalu menjadi siswa teladan dan menduduki peringkat pertama. Menariknya, kecerdasan akademisnya sempat membuatnya hampir masuk ke SMP Negeri unggulan.

Namun, sejarah mencatat sebuah titik balik yang mengharukan. Melalui mimpi sang orang tua yang bertemu Nabi Muhammad SAW, Adi akhirnya diarahkan ke jalur agama. Pagi sekolah umum, siang hingga sore sekolah agama. Keputusan inilah yang menjadi pondasi lahirnya sang ulama jenius di masa depan.

Perjalanan Intelektual yang Menembus Batas
UAH adalah prototipe pembelajar sejati. Setelah menamatkan pendidikan di Ponpes Darul Arqam Muhammadiyah Garut sebagai santri teladan, ia melanjutkan studi ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di sana, ia meraih IPK nyaris sempurna (3,98), sebelum akhirnya terbang ke Libya pada tahun 2005.

Di Libya, kapasitas intelektualnya meledak. Ia tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga talaqqi kepada para ulama besar dunia. Beberapa nama besar yang menjadi gurunya antara lain:

Syaikh Wahbah az-Zuhaili (Ulama besar Suriah penulis Tafsir Al-Munir).

Syaikh Dukkali Muhammad al-‘Alim (Muqri Internasional).

Syaikh ar-Rabithi (Mufti Libya).

Berkat ketekunannya, ia dipercaya menjadi Ketua Dewan Khatib di Tripoli pada 2009, sebuah posisi prestisius yang jarang diisi oleh orang non-Arab.

Metode At-Taisir: Memasyarakatkan Al-Qur’an
Sekembalinya ke Indonesia pada 2011, UAH tidak hanya berdakwah secara lisan. Ia mendirikan Quantum Akhyar Institute dan mengembangkan metode At-Taisir. Metode ini dirancang khusus agar umat Islam bisa menghafal Al-Qur’an dengan cepat dan menyenangkan, persis seperti cara beliau mengingat setiap detail dalam mushaf.

Melalui media digital seperti Akhyar TV dan media sosial, UAH berhasil menjangkau jutaan milenial. Gaya ceramahnya yang logis, sistematis, dan selalu berbasis data (referensi kitab) menjadikannya rujukan bagi mereka yang mencari jawaban agama secara mendalam namun mudah dipahami.

Aksi Nyata untuk Kemanusiaan
Kecerdasan UAH juga dibarengi dengan kepedulian sosial yang tinggi. Dunia sempat terkejut ketika ia berhasil menggalang dana sebesar Rp30 Miliar hanya dalam 6 hari untuk Palestina pada tahun 2021. Tak hanya itu, ia juga mendirikan pesantren virtual MIRA (Ma’had Islam Rafiah Akhyar) sebagai bentuk baktinya pada sang ibunda dan pendidikan umat.

Atas dedikasinya, ia dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa dari berbagai universitas, termasuk Universitas Muhammadiyah Jakarta atas kontribusinya dalam Manajemen Pendidikan Islam.

Kesimpulan
Dari kota kecil di Pandeglang menuju panggung dunia di Libya, Ustaz Adi Hidayat telah membuktikan bahwa kecerdasan yang dibarengi dengan adab dan ketulusan dapat membawa perubahan besar bagi umat. Beliau bukan sekadar “mesin penghafal”, melainkan jembatan ilmu yang menghubungkan khazanah ulama klasik dengan kebutuhan umat di era modern. (Wikipedia)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!