Malam Ketika Allah Menjaga Jasad Rasulullah.

Akurat Mengabarkan - 15 Februari 2026
Malam Ketika Allah Menjaga Jasad Rasulullah.
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

KBBAcehnews.com | Tapaktuan – Malam itu, negeri Syam diselimuti keheningan. Istana tampak tenang. Lampu-lampu temaram bergoyang pelan ditiup angin. Namun di balik dinding istana, seorang lelaki terbangun dengan napas terengah.

la adalah Sultan Nuruddin Mahmud Zanki, penguasa yang dikenal adil, zuhud, dan takut kepada Allah.

Dalam tidurnya, ia melihat Rasulullah.

Bukan dalam wajah tersenyum. Bukan pula dengan kabar gembira. Rasulullah berdiri dengan wajah penuh keseriusan. Beliau menunjuk dua orang lelaki yang berdiri di kejauhan dan bersabda:

“Wahai Mahmud… selamatkan aku dari dua orang ini.”

Sultan terbangun.

Keringat membasahi wajahnya. Jantungnya berdetak tidak beraturan. la segera bangkit. Berwudhu. Mendirikan shalat di tengah malam

yang sunyi.

“Ya Allah… jika ini dari-Mu, kuatkan aku.”

Namun mimpi itu datang kembali. Malam berikutnya. Dengan wajah yang sama. Dengan isyarat yang sama. Dengan kalimat yang sama.

Tak ada lagi ruang untuk ragu. Pagi itu, Sultan memanggil para penasihatnya, ulama, panglima, dan orang-orang kepercayaannya. la berkata dengan suara tegas namun

bergetar:

“Aku melihat Rasulullah dalam mimpiku. Beliau meminta tolong. Dan demi Allah, aku tidak akan menunda satu hari pun.”

Semua terdiam.

Mereka tahu: ini bukan mimpi orang biasa. Biasanya, perjalanan dari Syam menuju Madinah memakan waktu satu bulan penuh.

Padang pasir luas. Angin keras. Medan berat.

Namun Sultan tidak peduli pada jarak. la berangkat hari itu juga.

Dan sejarah mencatat sesuatu yang

luar biasa: perjalanan itu ditempuh hanya dalam 16 hari. Seakan bumi dilipat. Seakan jarak dipendekkan oleh kehendak Allah. Seakan setiap langkah dijaga oleh doa Nabi.

Setibanya di Madinah, Sultan tidak langsung bertanya. la tidak menuduh. la tidak mencari dengan amarah. la justru berkata kepada penduduk: “Aku datang membawa sedekah.”

Dan ia bersumpah:

tidak satu dirham pun akan dibagikan melalui perantara. la ingin melihat wajah demi wajah. la ingin menatap satu per satu penduduk Madinah.

la duduk.

Orang-orang pun datang. Tua, muda, miskin, kaya. Tangannya sendiri yang menyerahkan sedekah. Matanya sendiri yang mengamati.

Hingga akhirnya….

dua orang lelaki melangkah mendekat. Pakaian mereka sederhana.

Wajah mereka dipenuhi bekas sujud. Lisan mereka basah oleh zikir. Saat sedekah diserahkan, air mata jatuh dari mata yang tampak paling takut kepada Allah.

Orang-orang tersentuh. Tak seorang pun curiga. Namun jantung Sultan bergetar.

la mengenali wajah itu. Wajah yang sama persis dengan yang dilihatnya dalam mimpi. Tak bertambah. Tak berkurang.

Sultan menahan diri..

la tidak langsung menangkap mereka.

la memerintahkan agar rumah mereka diperiksa dengan hati-hati. Awalnya tak ada yang mencurigakan.

Namun tanah di dalam rumah terasa tidak wajar. Digali sedikit… lalu lebih dalam…

Dan saat cangkul menyentuh ruang

kosong-terbukalah sebuah terowongan. Gelap…Sempit…Rapi…

Terowongan itu mengarah lurus ke makam Rasulullah. Tangisan pun pecah.

Penduduk Madinah tersungkur.

Lutut-kaki melemah.

Allah telah menjaga Rasul-Nya. Bukan dengan pedang. Bukan dengan pasukan. Tetapi dengan: mimpi seorang hamba shalih, perjalanan yang dipercepat, mata yang jeli di balik sedekah, dan tanah Madinah yang membongkar pengkhianatan.

Sebagai penjagaan terakhir, Sultan memerintahkan dibuatnya parit besar di sekeliling makam Rasulullah, yang kemudian diisi timah cair, agar tidak ada lagi tangan yang mampu menyentuh kehormatan itu. Dan Madinah pun bersaksi:

Allah menjaga Nabi-Nya ketika hidup, dan menjaga beliau setelah wafat.

Kisah ini dinukil dalam kitab-kitab sejarah Islam seperti Al-Bidayah wannihayah karya Ibnu Katsir dan Wafa’ al-Wafa’ karya As-Samhudi. la adalah kisah sejarah masyhur, bukan hadis bersanad. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!