MENJAGA KEBENINGAN HATI: TIDAK PERLU JADI SELEBERITI DI SETIAP RUANGAN

Akurat Mengabarkan - 14 Februari 2026
MENJAGA KEBENINGAN HATI: TIDAK PERLU JADI SELEBERITI DI SETIAP RUANGAN
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By. Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA

KBBAcehnews.com | Banada Aceh – Ada orang yang masuk ke sebuah ruangan seperti artis datang ke panggung. Langkahnya pelan, tapi matanya sibuk: siapa yang berdiri? siapa yang menyapa? siapa yang pura-pura tidak melihat? Kalau tidak ada yang menoleh, hatinya langsung mengajukan protes: “Sepertinya saya kurang viral hari ini.”

Padahal hidup ini bukan acara penghargaan. Tidak ada karpet merah setiap kita datang. Tidak ada tepuk tangan setiap kita duduk. Dan, kabar baiknya: memang tidak perlu ada.

Menjaga kebeningan hati itu salah satunya adalah tidak bercita-cita menjadi pusat perhatian. Biasa saja jika tidak dihormati. Biasa saja jika tidak disapa. Biasa saja jika senyum kita tidak dibalas. Kalau setiap senyum harus dibalas, nanti kita jadi seperti kasir yang menunggu struk keluar sebelum merasa sah. Padahal senyum itu bukan transaksi. Ia sedekah, bukan investasi.

Hati itu seperti air dalam gelas bening. Sedikit saja kita goyangkan karena tidak disapa, langsung keruh. Ada riak kecil bernama “tersinggung”. Ada buih kecil bernama “kenapa dia begitu?”. Lama-lama kita sendiri yang minum air keruh itu. Padahal, mungkin orang yang tidak menyapa itu sedang pusing memikirkan cicilan. Mungkin dia tidak melihat. Mungkin dia memang pelupa. Atau mungkin… ya memang dia begitu. Tidak semua orang punya standar keramahan yang sama. Dan itu bukan urusan kita.Orang yang hatinya bening itu seperti danau yang tenang. Burung boleh hinggap, boleh tidak. Angin boleh datang, boleh pergi. Ia tetap jernih karena tidak sibuk membalas setiap riak.

Cita-cita ingin dihormati sering kali lebih melelahkan daripada pekerjaan itu sendiri. Kita jadi sibuk mengatur wajah, memilih kalimat, menata posisi duduk agar terlihat penting.

Lucunya, semakin kita ingin dihormati, justru aura kita jadi kaku. Seperti orang yang memegang gelas penuh sampai tegang, takut tumpah. Padahal kalau kita santai, gelas itu justru lebih stabil.

Ada sebuah ironi dalam hidup dengan ungkapan : Orang yang mengejar perhatian sering kehilangan wibawa. Orang yang tidak mengejar apa-apa justru sering dihormati.

Kenapa? Karena ketulusan punya daya tarik yang sunyi. Ia tidak berisik, tapi terasa.

Biasa saja jika tidak dihormati. Karena hormat itu bukan sesuatu yang bisa dipaksa. Ia tumbuh seperti pohon. Disiram oleh akhlak, dipupuk oleh konsistensi, dijaga oleh keikhlasan. Kalau kita menarik daunnya agar cepat tinggi, yang ada justru patah.

Biasa saja jika tidak disapa. Karena nilai diri kita tidak berkurang hanya karena satu orang tidak mengucap salam. Matahari tetap matahari walau ada yang menutup tirai.

Biasa saja jika senyum tidak dibalas. Karena senyum itu cermin hati kita, bukan cermin orang lain. Kalau orang lain memilih tidak memantulkan, itu urusan kacanya, bukan cahaya kita.

Menjaga kebeningan hati itu seperti merawat kaca jendela. Debu akan selalu datang: komentar orang, sikap dingin, perlakuan tak sesuai harapan. Tapi kita tidak perlu memecahkan kacanya hanya karena ada debu. Cukup dilap, dibersihkan, lalu lanjutkan hidup.

Kalau kita mudah tersinggung hanya karena hal-hal kecil, itu seperti membawa payung besar hanya karena takut ada satu titik hujan. Hidup jadi berat, padahal belum tentu hujan.

Ada humor kecil dalam kehidupan ini:

Sering kali orang yang kita tunggu sapaannya tidak menyadari bahwa kita sedang menunggu. Dan kita yang menunggu pun tidak menyadari bahwa kita sedang menyiksa diri sendiri. Betapa lucunya kita ini.

Pada akhirnya, menjaga kebeningan hati adalah tentang berdamai dengan kenyataan bahwa dunia tidak berputar di sekitar kita. Dan itu bukan kabar buruk. Itu kabar yang melegakan. Karena jika kita tidak perlu jadi pusat perhatian, kita bebas menjadi diri sendiri. Tidak perlu sibuk membuktikan. Tidak perlu sibuk dibandingkan. Tidak perlu sibuk berharap dibenarkan. Hidup jadi ringan.

Dan hati yang ringan itulah yang bening.

Maka, mari belajar biasa saja. Biasa saja tidak disapa. Biasa saja tidak dihormati. Biasa saja senyum tidak dibalas. Karena yang luar biasa bukanlah perhatian orang lain kepada kita,

tetapi kemampuan kita menjaga hati tetap jernih… meski dunia tidak selalu memandang.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!