MENJAGA HATI DI KERAMAIAN

Akurat Mengabarkan - 10 Februari 2026
MENJAGA HATI DI KERAMAIAN
Dr. Khairuddin, S.Ag, MA  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

BY Dr. KHAIRUDDIN, S.Ag. MA

KBBAcehnews.com | Banda Aceh – Dalam hidup, kita sering berdiri di tengah keramaian penilaian. Satu langkah kita bisa dipuji, langkah yang sama bisa dicibir.

Satu penampilan dianggap indah oleh sebagian, namun terasa biasa—bahkan kurang—di mata yang lain. Seolah-olah dunia adalah ruang sidang tanpa hakim tunggal, dan kita—tanpa diminta—menjadi terdakwa di hadapan banyak lidah.

Namun, mari berhenti sejenak.

Benarkah ucapan orang-orang itu yang melukai kita? Ataukah hati kita sendiri yang membuka pintu dan membiarkan kata-kata itu masuk tanpa saringan? Hati manusia sesungguhnya tidak rapuh seperti kaca tipis yang pecah hanya karena disentuh. Ia lebih mirip batu di dasar sungai— air deras bisa mengalir di atasnya, kata-kata bisa melintas di sekitarnya, tetapi ia tetap utuh selama kita tidak mengizinkan arus itu menggerusnya.

Sering kali, luka bukan datang dari suara luar,

melainkan dari bisikan dalam diri: “Mereka benar… aku memang kurang.” “Mengapa mereka berkata begitu?” “Aku tidak cukup baik.” Padahal, tidak semua yang diucapkan orang adalah cermin kebenaran. Sebagian hanyalah pantulan suasana hati mereka, sebagian lagi lahir dari selera, latar belakang, atau luka yang tidak kita ketahui. Seperti seseorang yang menilai matahari terlalu panas— apakah itu berarti matahari harus berhenti bersinar? Seperti orang yang mengeluh hujan—

apakah hujan harus meminta maaf karena menumbuhkan bumi?

Kita tidak bisa mengatur lidah manusia. Hari ini mereka memuji, besok bisa mencela. Hari ini mengangkat, esok merendahkan. Tetapi kita selalu punya kuasa atas satu hal: bagaimana menempatkan kata-kata itu di dalam hati. Ada ucapan yang pantas kita jadikan cermin untuk memperbaiki diri. Ada pula yang cukup kita jadikan angin lalu— didengar, lalu dilepas, tanpa perlu disimpan.

Ketegasan bukan berarti keras kepada orang lain, tetapi lembut kepada diri sendiri sambil tetap tegak berdiri.

Tidak setiap kritik harus ditelan bulat-bulat.

Tidak setiap penilaian layak dijadikan ukuran harga diri. Sebab nilai kita tidak lahir dari keramaian suara, melainkan dari kejujuran niat,

dari istiqamah dalam melangkah, dan dari keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah riuhnya dunia.

Jika suatu hari kata-kata terasa menyakitkan,

bertanyalah perlahan pada hati Apakah ini benar-benar melukaiku… atau aku yang sedang menggenggamnya terlalu erat?

Kadang, yang perlu kita lepaskan bukan omongan orang, melainkan kebiasaan kita memeluknya terlalu lama.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!