KBBAcehnews.com | Tapaktuan — Sejumlah kepala sekolah dan siswa di Kecamatan Labuhanhaji Barat, Kabupaten Aceh Selatan, membantah keras informasi yang menyebutkan menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan Yayasan Ammar Aceh Madani berbau dan basi.

Kepala SD Negeri Ujung Padang Labuhanhaji Barat, Hadisnawati, S.Pd, mengatakan isu tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Ia menegaskan bahwa pihak sekolah, guru, dan 86 murid menikmati menu MBG bersama-sama pada Jumat (30/1/2026) tanpa menemukan adanya perubahan rasa maupun aroma.
“Kami makan bersama murid-murid sekitar pukul 11.00 WIB. Semuanya normal, tidak ada bau atau rasa basi. Tiba-tiba muncul isu seperti itu. Ini keliru dan sangat aneh,” kata Hadisnawati, Sabtu (31/1/2026).
Hadisnawati menegaskan, jika memang ditemukan masalah pada makanan, pihak sekolah tentu akan menyampaikan keberatan secara resmi. Namun, selama pelaksanaan MBG, tidak ada keluhan dari guru maupun siswa.
Pernyataan serupa disampaikan siswi SMAN 1 Labuhanhaji Barat, Cut Aicha Kamila, yang didampingi rekannya Rizka Ulfia. Ia menyebutkan bahwa sejak MBG disalurkan oleh Yayasan Ammar Aceh Madani, tidak pernah ditemukan menu yang berbau atau basi.
“MBG ini jadi pengganti sarapan pagi kami. Dibagikan saat jam istirahat. Rasanya biasa saja, malah menunya selalu berganti. Dalam seminggu ada menu daging. Tidak pernah basi,” ujar Cut Aicha.
Sementara itu, Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Jabar Nur Pasya Gampong Pelokan, Cut Merah Diana, S.Pd, juga mengaku heran dengan isu yang beredar. Menurutnya, tidak ada laporan atau komplain resmi dari pihak sekolah maupun siswa.
“Saya ikut mencicipi saat jam istirahat. Tidak ada keluhan dari pelajar. Kalau ada masalah, pasti dibuat berita acara. Ini kemungkinan hanya miskomunikasi,” ujar Cut Merah Diana, yang juga mengajar di SMP Negeri 2 Labuhanhaji Barat.
Ia menjelaskan, pembagian MBG di MTs Jabar Nur Pasya dan SMPN 2 Labuhanhaji Barat dilakukan antara pukul 10.00 hingga 12.00 WIB dan berjalan lancar. Menu MBG, kata dia, memang harus dikonsumsi tepat waktu demi menjaga kualitas gizi.
“MBG diperuntukkan bagi murid SD, pelajar, balita, dan ibu hamil. Tidak dianjurkan dibawa pulang atau dikonsumsi melewati batas waktu,” katanya.
Sebelumnya, ahli gizi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Aceh Madani, Adelia Oktarina FR, S.Tr.Gz, menyatakan bahwa pelaksanaan MBG oleh Yayasan Ammar Aceh Madani telah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).
“Seluruh proses berjalan maksimal dan steril. Tim penilai bahkan memberikan penilaian terbaik untuk dapur ini,” ujar Adelia.
Ia menjelaskan, sebanyak 2.992 porsi MBG diproduksi setiap hari. Proses memasak dimulai pukul 03.00 WIB dan distribusi dilakukan pada pukul 07.00–08.00 WIB. Seluruh menu juga dicicipi terlebih dahulu sebelum disalurkan.
“MBG memiliki ambang waktu konsumsi dan tidak untuk dibawa pulang. Jika dikonsumsi sesuai waktu, kualitas dan keamanannya terjaga,” kata Adelia. (Red)