By Dr. Khairuddin, S.Ag.MA
KBBAcehnews/com | Banda Aceh – Di zaman serba cepat ini, janji seringkali jatuh pada posisi yang paling murah nilainya: mudah diucapkan, ringan dibagikan, tetapi berat—bahkan terasa mustahil—untuk ditunaikan. Lidah kita begitu lihai berkata, “InsyaAllah saya siap,” atau “Tenang, nanti saya urus,” sementara hati kita tahu, sebagian besar hanya formalitas. Janji berubah menjadi basa-basi, bukan lagi komitmen.
Padahal, Rasulullah sudah menegaskan ciri orang munafik itu sederhana saja, tapi menampar hati: “Apabila ia berjanji, ia mengingkarinya.”
Bukan karena Allah ingin mempersulit manusia, tetapi karena janji adalah cermin kejujuran jiwa. Ia menggambarkan apakah seseorang menjunjung amanah, atau sekadar menjadikan kata-kata sebagai hiasan bibir.
Kalau mau jujur, mengingkari janji itu bukan perkara lupa.
Sering kali ia lahir dari budaya menunda, kebiasaan menggampangkan, atau ketidakjujuran kepada diri sendiri. Lidah kita bergerak lebih cepat daripada niat. Akhirnya, kata-kata yang keluar tidak lagi berbobot, hanya bunyi yang sebentar kemudian menguap.Dan di sinilah letak bahayanya.
Munafik tidak selalu berarti kafir.
Tetapi munafik adalah penyakit hati.
Ia membuat seseorang tidak stabil antara berkata dan bertindak. Di luar tampak meyakinkan, di dalam penuh kepalsuan. Dunia mungkin masih bisa tertipu, tetapi hati sendiri terus merekam: aku tidak amanah.
Sekarang, coba kita lihat ke era informasi ini—semua jejak terekam. Status, pesan, tanda tangan digital, arsip rapat, notulen, bahkan jejak komentar. Dulu janji bisa hilang bersama angin. Sekarang, ia menjadi file yang bisa dibuka ulang kapan saja.
Kalau dulu orang mengingkari janji lalu menghilang, sekarang kita bisa membandingkan: tanggal sekian bilang begini, bulan lalu bilang begitu. Ironisnya, sebagian orang masih santai saja. Seolah dunia tidak sedang merekamnya.
Bayangkan sebuah bank kepercayaan. Setiap janji adalah tabungan. Saat kita tepat janji, bertambah nilainya. Saat kita mengingkari, saldo moral kita bocor sedikit demi sedikit. Hingga pada suatu hari, orang tidak lagi percaya—notulen rapat pun terasa hambar jika nama kita tertulis di situ. Bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka sudah belajar.Dan begitulah azab dunia: hilangnya kepercayaan.
Azab akhirat? Jangan ditanya. Ketika seseorang terbiasa memain-mainkan janji, ia sedang melatih dirinya berjalan di jalur kemunafikan. Bukan sekali dua kali, tetapi menjadi karakter. Hingga suatu saat, keikhlasan pun pergi, berganti dengan kepura-puraan yang melekat.
Lalu, ada yang berkata santai: “Yang penting kan niat saya baik.” Pertanyaannya sederhana:
Kalau niat baik, kenapa tidak jujur dari awal?
Kenapa tidak berkata apa adanya: saya belum sanggup, saya tidak siap, saya belum bisa?
Kejujuran itu mungkin pahit, tetapi ia menyehatkan. Sedangkan janji palsu itu manis, tetapi beracun.
Di tengah hingar-bingar media sosial, kita sedang hidup di panggung luas. Anak-anak kita membaca jejak kita. Murid, jamaah, kolega, masyarakat—semua mencatat, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk belajar. Dan jangan salah, reputasi itu bukan terbentuk dari satu pidato besar, tapi dari hal kecil seperti: apakah kita menepati janji.
Maka, mari kita bertanya pada diri sendiri:
Apakah kata-kata kita masih layak dipercaya?
Kalau iya—pertahankan. Kalau belum—lebih baik kita kurangi janji, daripada rajin menebar kecewa.
Karena pada akhirnya, orang yang menepati janji tidak hanya mulia di mata manusia—tetapi juga selamat di hadapan Allah. Dan orang yang terbiasa mengingkari janji? Ia sedang bermain-main di tepian jurang kemunafikan. Jurang yang licin, dan sedikit saja lengah, kita bisa jatuh tanpa sadar.
Tegasnya, Kalau belum siap menepati, jangan mudah berjanji. Kalau sudah berjanji, penuhilah. Kalau tak mampu, jujurlah.
Di dunia kita mungkin hanya kehilangan reputasi. Di akhirat, bisa jadi lebih dari itu.
Dan percayalah, rekam jejak itu tidak pernah benar-benar hilang—di bumi, maupun di langit. (Red)