By Dr. Khairuddin, S. Ag. MA
KBBAcehnews.com | Banda Aceh – Pernahkah kita bertemu seseorang yang hidupnya tampak lengkap? Hartanya melimpah, jabatannya tinggi, pengaruhnya luas, dan wajahnya pun enak dipandang. Kehadirannya di ruangan langsung terasa. Orang-orang menyapanya, menghormatinya, bahkan mungkin sedikit canggung berada di dekatnya.
Sayangnya, ada yang kemudian terjebak. Sedikit demi sedikit, ia mulai merasa lebih tinggi dari orang lain. Langkahnya menjadi lebih tegap, tapi hidungnya ikut terangkat. Ia mulai terbiasa dipuji, dan tanpa sadar menganggap hormat orang lain sebagai sesuatu yang wajib diterima. Dunia seolah dibagi dua: dirinya… dan sisanya.
Namun yang lebih aneh — bahkan lucu — adalah ketika kita melihat orang yang hidupnya sederhana, tanpa harta, tanpa jabatan, tanpa pengaruh, dan wajah pun biasa-biasa saja… tapi tetap saja sombong. Pada titik ini, kesombongan sudah bukan lagi soal kemampuan. Tapi soal kebiasaan hati.
Dan orang-orang di sekitarnya?
Mereka hanya bisa tersenyum kecil.
Kesombongan tanpa modal memang seringkali lebih lucu daripada menakutkan.
Di sinilah kita mulai belajar satu hal penting:
Kesombongan ternyata tidak butuh alasan.
Ia bisa muncul pada siapa saja.
Pada yang berada di atas, ataupun yang masih berjuang di bawah. Padahal, jika kita mau berpikir sejenak…apa sebenarnya yang kita sombongkan?
Harta bisa hilang, Jabatan bisa diganti. Pengaruh bisa pudar. Wajah pun akan dikalahkan oleh waktu.
Semuanya hanyalah titipan sementara.
Dan titipan tidak pernah menjadikan kita lebih mulia dari orang lain. Kesombongan itu ibarat parfum yang disemprot berlebihan.
Awalnya mungkin wangi, tapi lama-lama orang akan menjauh sambil menahan napas.
Sebab orang sombong sebenarnya bukan terlihat kuat, melainkan terlihat haus pengakuan. Ia seperti berkata dalam hati:
“Lihatlah aku… hargai aku… jangan abaikan aku…”
Dan bukankah itu tanda kelemahan?
Sebaliknya, orang yang rendah hati justru tidak sibuk memikirkan dirinya.
Ia berjalan biasa saja, menyapa dengan tulus, membantu tanpa banyak bicara.
Tidak merasa lebih tinggi, tidak pula merasa lebih rendah. Ia hanya ingin tetap menjadi manusia seutuhnya.
Orang seperti ini tidak perlu meminta dihormati. Sebab penghormatan datang sendiri, dengan lembut dan jujur.
Maka mari kita bertanya pada diri sendiri:
Untuk apa sombong,
jika pada akhirnya kita semua sama-sama kembali ke tanah yang satu? Untuk apa merasa lebih tinggi, jika esok mungkin saja kita jatuh pada posisi sebaliknya? Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan meninggikan diri. Lebih baik kita belajar menundukkan hati:
dengan menghargai orang lain,
dengan menyadari kekurangan diri,
dan dengan memahami bahwa setiap manusia bernilai.
Karena pada akhirnya, yang membuat kita mulia bukanlah seberapa tinggi kita berdiri,
tetapi seberapa rendah kita mampu merendahkan hati tanpa kehilangan harga diri.
Dan bila setelah membaca ini kita masih ingin sombong juga… setidaknya kita sudah tahu,
bahwa tidak ada satu pun alasan logis yang membenarkannya.
Pelan-pelan, mari belajar merendah.
Bukan untuk dihargai manusia —
tetapi agar hati kita tetap lapang, tenang, dan penuh cinta. (Red)