KBBAceh.News | Banda Aceh – Setiap kali musibah datang—banjir, longsor, gempa, harga naik, listrik padam—kita hampir serempak mengucapkan kalimat yang sama:
“Ini ujian dari Allah.” Lalu disusul nasihat klasik yang terdengar sederhana, tapi berat dilaksanakan: “Bertaubatlah.”
Pertanyaannya kemudian muncul, jujur dari hati, Kok kita terus diuji? Ada apa sebenarnya dengan kita?
Padahal, kalau soal ucapan, kita ini rasanya sudah rajin. Mulut ringan berkata astaghfirullah. Ada sedikit kejadian besar, kita teriak Allahu Akbar. Menyusun rencana, kita tutup dengan insya Allah.
Kalau pahala dzikir dihitung dari kelancaran lidah, mungkin kita sudah aman. Tapi ternyata hidup tidak sesederhana itu.
Ujian Itu Kepastian, Bukan Keanehan, Allah sejak awal sudah memberi tahu, bahwa hidup ini memang bukan taman tanpa duri.
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan ‘kami beriman’, sementara mereka tidak diuji?”
(QS. Al-‘Ankabut: 2)
Artinya, ujian bukan tanda kita dibenci. Justru sering kali, ujian adalah bukti bahwa iman kita dianggap serius.
Kalau tidak diuji sama sekali, jangan-jangan kita sedang dibiarkan.
Allah juga sudah mengingatkan, bahwa ucapan dan perbuatan tidak selalu sejalan.
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Sangat besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 3)
Di sinilah kita perlu jujur. Bisa jadi, astaghfirullah kita masih sebatas refleks, belum menjadi refleksi. Insya Allah sering kita ucapkan, tapi lebih mirip penunda halus. Allahu Akbar kita lafazkan, tapi urusan dunia sering kita besarkan lebih dulu.
Ini bukan hinaan, hanya pengingat.
Seperti orang sering menyebut peta, tapi tidak pernah benar-benar mengikuti arah.
Tidak semua musibah adalah hukuman, dan tidak semua ujian adalah tanda murka.
Ada ujian untuk menaikkan derajat, ada teguran untuk meluruskan arah, dan ada akibat dari perbuatan manusia.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini jujur dan tegas. Sebagian musibah memang bukan “murni dari langit”, tetapi hasil dari ulah manusia sendiri: merusak alam, berlaku zalim, abai terhadap keadilan.
Kalau Orang Lain Berbuat Salah, Kenapa Kita Ikut Kena? Pertanyaan ini sangat manusiawi. Dan Al-Qur’an tidak menghindarinya.
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً
“Takutlah kalian terhadap bencana yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 25)
Artinya, ketika keburukan dibiarkan, ketika kezaliman ditonton tanpa sikap, dampaknya bisa meluas. Bukan karena semua bersalah, tetapi karena semua saling terhubung.
Seperti satu rumah bocor: yang bolong satu genteng, tapi basahnya satu keluarga.
Karnanya ujian Itu Justru Tanda Kasih Sayang, sebagaimana Rasulullah SAW memberi kita kacamata yang lebih menenangkan:
إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ
“Jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka.” (HR. Tirmidzi)
Maka jangan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa ujian adalah tanda kebencian Allah.
Bisa jadi itu tanda perhatian.
Tanda cinta. Tanda bahwa kita masih dianggap layak diperbaiki.
Mungkin yang Perlu Kita Benahi Bukan Dzikirnya, Tapi Arah Hidupnya, Allah tidak menolak dzikir, doa, dan istighfar kita.
Tetapi Allah ingin dzikir itu hidup—turun ke sikap, ke kebijakan, ke cara kita bekerja dan memimpin.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini seperti mengetuk pelan tapi dalam:
Perubahan besar tidak dimulai dari langit, tapi dari kesadaran.
Mungkin kita memang sering diuji. Tapi bisa jadi itu karena Allah ingin kita lebih jujur, lebih adil, dan lebih sadar.
Kalau mulut sudah rajin berdzikir, mari ajak hati ikut tunduk, dan tangan ikut lurus.
Karena hidup ini bukan tentang bebas ujian,
tetapi tentang bagaimana kita lulus tanpa kehilangan iman dan kemanusiaan.
Dan bukankah ujian paling berat bukan musibah itu sendiri, melainkan hati yang tidak mau belajar darinya?
(By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)