Situasi Banjir Bandang 16 Kecamatan di Aceh Tenggara, Sang Raja dan Panglima “Menghilang”

Akurat Mengabarkan - 29 November 2025
Situasi Banjir Bandang 16 Kecamatan di Aceh Tenggara, Sang Raja dan Panglima “Menghilang”
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

Oleh Ketua Lsm KALIBER DKD Aceh: Zoel Kenedi

KBBAceh.News | Aceh Tenggara, – Ditengah kondisi bencana banjir bandang melanda di Kabupaten Aceh Tenggara, sejak rabu malam berubah menjadi salah satu momen paling memalukan dalam sejarah penanganan bencana daerah itu.

Miris kondisi ini, empat kecamatan terisolir dan akses tiga jembatan terputus. Ada 13 orang yang ikut hanyut terseret Arus Sungai Alas bersamaan dengan bebatuan material banjir bandang, lumpur dan kayu gelondongan.

“Dari 13 orang yang terseret arus Sungai Alas, 8 orang sudah ditemukan meninggal dunia, ” kata Ketua DKD Lsm Kaliber Provinsi Aceh Zoel Kanedi, saat menyampaikan kekecewaan kepada Media, Sabtu 28 November 2025.

Zoel Kanedi menyebutkan, di tengah semua kekacauan itu, satu pertanyaan terus bergema dari berbagai penjuru. Sang raja dan panglima menghilang di bumi sepakat segenep.

Ironisnya, di tengah susah payah warga menyelamatkan dirinya masing-masing, sang raja dibumi sepakat segenep atau disebut Bupati Aceh Tenggara, Salim Fakhri. Dia memilih menghilang dan pergi meninggalkan Kabupaten Aceh Tenggara hingga memilih kepentingan pribadi dari pada rakyatnya yang tertimpa musibah, dia terkesan diam dan tidak menunjukkan kepemimpinan sama sekali.

“Sangat disayangkan di tengah amukan banjir, korban terdampak banjir di Aceh Tenggara sebanyak 1.372 KK dan 3.959 jiwa yang meliputi 16 kecamatan dan 96 desa. Bupati dan Ketua DPRK malah memilih pergi,” ucapnya dengan kecewa.

Menurut Zk.Agara berdasarkan informasi dihimpun Bupati Aceh Tenggara, Salim Fakhry dan Ketua DPRK, Denny Febrian Roza memilih pergi tengah mengikut prosesi merebut kursi pimpinan Partai Golkar DPD I Aceh dan DPD II Golkar Aceh Tenggara.

Padahal, Warga yang terdampak sangat memerlukan perhatian dari pemerintah di tengah musibah ini. Dikarenakan banyak warga yang kelaparan dan mengungsi karena rumah hanyut di hantam banjir.

“Dimana perhatian pemerintah daerah terhadap warganya. Ditengah situasi musibah ini, warga ada yang meninggal, hingga menghilang belum juga ditemukan sampai saat ini,” ungkapnya.

Hingga berita ini diturunkan, ribuan warga yang terdampak masih menunggu bantuan. Mereka bukan hanya menunggu perahu, selimut, atau makanan.

Mereka menunggu sosok pemimpin.
Bukan pemimpin yang hadir saat acara seremonial, bukan pemimpin yang rajin memposting pencapaian, tetapi pemimpin yang hadir ketika rakyatnya dalam bahaya dan sedang menderita[Hidayat]

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!