Pernyataan itu bukan retorika. Ia menegaskan bahwa pembersihan ini tak akan pandang bulu siapapun yang terlibat, baik dari kalangan pegawai Kementerian Keuangan maupun pengusaha besar, akan diproses tanpa kompromi.
Suasana Jakarta hari itu terasa tegang namun berdenyut penuh harapan. Di tengah hiruk-pikuk agenda ekonomi nasional dan tekanan publik terhadap kinerja fiskal, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan pernyataan mengejutkan sebuah ancaman sekaligus janji: akan ada penangkapan besar-besaran dalam waktu dekat.
Tanpa banyak basa-basi, sang bendahara negara menyingkap tabir yang selama ini menggantung di langit ekonomi Indonesia praktik penyelundupan dan under invoicing yang membuat penerimaan negara bocor setiap tahunnya.
“Yang (melakukan) under invoicing, yang selama ini nyelundupin, yang banyak apa, tekstil, baja apa segala macam itu kan sudah ada nama-nama pemainnya,” ujar Purbaya, seperti dilansir YouTube Kompas TV, Selasa (21/10/2025).
Kalimatnya terdengar datar, namun maknanya menukik tajam. Nama-nama para pelaku, katanya, sudah ada di tangannya.
Dan kini tinggal menunggu waktu, beberapa hari ke depan saat para pemain besar itu akan diamankan aparat penegak hukum.
Skema Licik di Balik Angka dan Faktur
Dalam dunia perdagangan, istilah under invoicing bukan sekadar teknik administrasi, tetapi modus kejahatan ekonomi yang canggih dan merusak.
Praktik ini dilakukan dengan mencantumkan nilai faktur lebih rendah dari harga sebenarnya demi menghindari bea masuk dan pajak impor.
Bagi Purbaya, praktik semacam itu bukan lagi sekadar pelanggaran teknis, melainkan pengkhianatan terhadap rakyat.
Ia menyebut sektor-sektor yang paling rawan: tekstil, baja, dan rokok tiga komoditas yang menjadi urat nadi industri nasional sekaligus ladang basah bagi para penyelundup.
“Saya Enggak Peduli di Belakangnya Siapa”
Bukan kali ini saja Purbaya mengancam langkah bersih-bersih besar-besaran.
Beberapa hari sebelumnya, saat ditemui di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis (16/10/2025), ia mengulangi pernyataan tegas yang menggema di ruang konferensi itu.
“Yang suka main selundup, saya tangkap. Bentar lagi ada penangkapan besar-besaran.
Saya enggak peduli di belakangnya siapa.
Di belakang saya pasti ada yang paling tinggi kan ya, Presiden paling tinggi di sini. Pasti beres,” ujarnya lantang, disambut lirikan serius para pejabat yang mendampinginya.
“Kan tinggal kita pilih aja siapa yang mau kita proses,” tegas mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu.
Ketika Pegawai Enggan Bertindak Karena “Bekingan Gede”
Namun, langkah itu tidak mudah. Purbaya mengaku sudah banyak mendengar alasan klasik dari aparat di lapangan, terutama dari jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Mereka sering kali enggan menindak pelaku penyelundupan karena ada kekuatan besar yang melindungi di belakang.
“Saya panggil orang Bea Cukainya, ‘Lo enggak benar’. ‘Bukan begitu, Pak, di belakangnya ada bekingan gede, kami enggak bisa apa-apa’,” ucap Purbaya menirukan percakapan itu, dengan ekspresi jengkel bercampur kecewa.
Tapi kali ini, ia menegaskan, tidak ada alasan untuk takut.
Ia mengingatkan bawahannya bahwa mereka bekerja di bawah mandat negara, bukan di bawah bayang-bayang siapa pun.
“Ya sudah sekarang sikat aja. Kan Dirjen Bea Cukai saya bintang tiga, kecuali bintang empatnya yang nyuruh. Kalau bintang empat kita lapor presiden,” katanya dengan nada setengah bergurau, tapi tajam.
Dari Rokok ke Baja: “Saya Akan Kejar Satu per Satu”
Purbaya tak berhenti di satu sektor. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa operasi besar ini akan dilakukan bertahap dan berlapis, mulai dari industri rokok, tekstil, hingga baja tiga sektor yang selama ini menjadi sarang penyelundupan dan sumber kerugian besar bagi negara.
“Rokok, saya akan beresin. Tekstil. Jadi rokok, habis itu tekstil, habis itu baja, habis itu yang lain.
Satu per satu saya akan kejar,” ujarnya penuh tekad.
Bagi Purbaya, pemberantasan penyelundupan bukan hanya urusan hukum, melainkan strategi besar memperkuat struktur ekonomi nasional.
Ia menilai, rasio pajak dan daya saing industri dalam negeri akan meningkat bila kebocoran itu berhasil ditutup.
“Dengan strategi seperti itu, saya yakin pelan-pelan ekonomi akan tumbuh lebih cepat.
Tapi enggak langsung besok 8 persen ya. Tahun depan mungkin bisa mendekati 6 persen atau lebih.
Tahun depannya lebih cepat lagi,” tutur Purbaya dengan nada optimis.
Pertaruhan Integritas dan Ekonomi
Pernyataan Purbaya menjadi tanda babak baru: perang terbuka melawan penyelundupan dan mafia ekonomi yang selama ini menari di balik celah regulasi.
Langkah ini juga sekaligus pertaruhan besar integritas pemerintah, terutama di bawah bayang-bayang tekanan industri dan kepentingan besar.
Namun bagi Purbaya, tak ada jalan lain. Bersih-bersih harus dimulai dari keberanian.
Dan malam-malam ke depan, mungkin menjadi saksi dimulainya operasi besar-besaran yang akan menguji bukan hanya ketegasan seorang menteri, tapi keberpihakan seluruh sistem pada keadilan ekonomi. (Sumber, Tribuntrends.com)