KBBAceh.News | Jakarta – Siapa sangka, sebuah organisasi keagamaan dari Indonesia berhasil menembus jajaran elite lembaga agama terkaya di planet ini. Muhammadiyah, organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia, secara mengejutkan menempati peringkat keempat dalam daftar organisasi keagamaan terkaya di dunia, mengungguli institusi-institusi besar dari negara maju seperti Australia dan Prancis.
Berdasarkan data yang dirilis Seasia Stats, kekayaan Muhammadiyah ditaksir mencapai angka fantastis US27,96miliar. Jika dikonversikan ke Rupiah dengankurs saat ini (sekitar Rp16.485 per US), nilainya setara dengan lebih dari Rp460 triliun.
Pencapaian ini tidak hanya menempatkan Muhammadiyah sebagai satu-satunya wakil dari negara berkembang di 10 besar, tetapi juga membuktikan bahwa lembaga keagamaan bukan hanya pusat spiritualitas, melainkan juga raksasa ekonomi yang tangguh.
Pencapaian luar biasa ini mematahkan persepsi umum dan menunjukkan kekuatan pengelolaan aset modern yang berakar pada prinsip kemaslahatan umat.
Keberhasilan Muhammadiyah menduduki peringkat keempat dunia tentu menimbulkan pertanyaan besar: dari mana sumber kekayaan yang begitu masif tersebut berasal? Jawabannya terletak pada visi modern dan kemandirian ekonomi yang telah dibangun selama lebih dari satu abad.
Berbeda dengan banyak organisasi lain yang bergantung pada donasi, kekuatan utama Muhammadiyah terletak pada “Amal Usaha Muhammadiyah” (AUM) yang tersebar di berbagai sektor vital. Ini adalah ekosistem ekonomi dan sosial yang mandiri dan terus berkembang.
Sektor Pendidikan: Fondasi utama kekayaan Muhammadiyah adalah jaringan pendidikannya. Organisasi ini mengelola lebih dari 5.000 sekolah dan madrasah, serta ratusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang tersebar di seluruh nusantara. Skala ini menjadikannya salah satu penyelenggara pendidikan swasta terbesar di Asia Tenggara.
Sektor Kesehatan: Di bidang kesehatan, Muhammadiyah memiliki lebih dari 100 rumah sakit dan ratusan klinik pratama yang melayani jutaan orang setiap tahunnya. Aset di sektor ini terus bertambah seiring dengan pembangunan fasilitas-fasilitas baru yang lebih modern.
Amal Sosial dan Keagamaan: Kekuatan Muhammadiyah juga ditopang oleh lebih dari 1.000 amal usaha sosial seperti panti asuhan dan panti jompo, serta ratusan pondok pesantren yang mendidik kader-kader masa depan.
Kekuatan Muhammadiyah tidak hanya di dalam negeri. Organisasi ini memiliki puluhan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di berbagai negara. Secara global, Muhammadiyah dikenal aktif dalam berbagai misi kemanusiaan, mulai dari bantuan untuk Palestina, pengungsi Rohingya di Myanmar dan Bangladesh, korban bencana di Pakistan, hingga program kemanusiaan di negara-negara Afrika dan Timur Tengah.
Posisi Muhammadiyah menjadi lebih istimewa jika melihat daftar lengkap organisasi agama terkaya di dunia. Daftar ini didominasi oleh lembaga-lembaga dari negara maju dengan sejarah panjang. Berikut adalah 10 besarnya:
The Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints (AS): Kekayaan mencapai US$265 miliar (sekitar Rp4.366 triliun).
Catholic Church in Germany (Jerman): Kekayaan diperkirakan antara US47,24miliar−US265,62 miliar (sekitar Rp778 triliun – Rp4.375 triliun).
Tirumala Tirupati Devasthanams (India): Organisasi Hindu ini memiliki kekayaan US$31,11 miliar (sekitar Rp513 triliun).
Muhammadiyah (Indonesia): Dengan kekayaan US$27,96 miliar (sekitar Rp460 triliun).
Catholic Church in Australia (Australia): Kekayaan mencapai US$23,25 miliar.
Catholic Church in France (Prancis): Memiliki kekayaan sekitar US$23 miliar.
Seventh-day Adventist Church (AS): Kekayaan mencapai US$15,6 miliar.
Church of England (Inggris): Memiliki kekayaan US$13,84 miliar.
Church of Sweden (Swedia): Kekayaan mencapai US$11,41 miliar.
Trinity Church (AS): Dengan kekayaan US$6 miliar.
Daftar ini mengonfirmasi bahwa kekuatan ekonomi organisasi keagamaan modern tidak lagi hanya bersumber dari sumbangan jemaat. Aset properti yang luas, seperti tanah dan bangunan yang diwariskan selama berabad-abad, menjadi tulang punggung utama.
Selain itu, pengelolaan aset secara profesional melalui berbagai kegiatan bisnis—seperti rumah sakit, sekolah, universitas, dan investasi lainnya—menjadi motor penggerak yang menghasilkan pendapatan berkelanjutan. Kasus Muhammadiyah adalah contoh sempurna bagaimana sebuah organisasi keagamaan dapat bertransformasi menjadi entitas sosio-ekonomi yang kuat, mandiri, dan berdampak luas bagi masyarakat.
Pencapaian ini selayaknya menjadi kebanggaan nasional dan inspirasi, menunjukkan bahwa dengan tata kelola yang baik dan visi yang jelas, organisasi berbasis komunitas mampu bersaing dan diakui di panggung dunia. (Red)